Pantau Flash
Antonio Banderas Umumkan Positif COVID-19 di Hari Ulang Tahunnya
Pemerintah Perpanjang Stimulus Keringanan Listrik hingga Akhir Tahun
Rusia Jadi Negara Pertama di Dunia yang Setujui Vaksin COVID-19
Menteri Budi: Masa Pandemi Ancam Kebangkrutan Industri Penerbangan
Pemotongan Sapi 'Tidak Manusiawi' di Aceh Disorot Media Asing

Janda Muda Tipu Puluhan Orang dengan Modus Investasi Bodong

Janda Muda Tipu Puluhan Orang dengan Modus Investasi Bodong Ilustrasi investasi bodong. (Foto: Pasardana)

Pantau.com - Kasus bermoduskan investasi bodong kembali terjadi, kali ini sebanyak 37 orang hampir di seluruh Indonesia telah menjadi korbannya. Seorang wanita bernama Veronika yang diketahui seorang janda diduga sebagai pelaku penipuan investasi bodong. Dalam menjalankan aksinya, Veronika mengaku memiliki perusahaan VW Company (Veronika Wijaya Company) yang bergerak pada bidang simpan pinjam.


5 orang dari puluhan korban lainnya melaporkan dugaan kasus penipuan investasi bodong tersebut ke Polda Metro Jaya, pada Selasa 21 Juli 2020 lalu. Menurut Informasi, kerugian yang dialami oleh para korban mencapai Rp 2 miliar. Para korban mengenal Veronika awalnya melalui arisan online yang mereka ikuti.

“Awalnya itu kan kenalnya karna main di satu arisan online yang sama trus dia menawarkan untuk ikut invetasi dan awalnya pun semua lancar on time tidak pernah telat makanya tertarik,” kata Marcelina salah satu korban yang ditemui, Senin (27/7/2020).

Baca juga: Polda Jatim Hari Ini Periksa Saksi Kunci Kasus 'MeMiles'

Marcelina mengaku ditawarkan pelaku keuntungan besar hinga 2 sampai 3 kali lipat dari modal sehingga membuatnya terayu untuk ikut investasi.

“Pertengan bulan Juni tahun 2020 itu awalnya saya ikut Invest sebesar Rp. 3.500.000. Dari invest tersebut terima keuntungan sebesar Rp. 1.500.000 dalam waktu 1 minggu. Lalu ikut lagi invest Rp 5 juta, Rp 10 juta, Rp 15 juta dan dengan keuntungan dan jangka waktu yang berbeda," jelasnya.

Setelah berhasil mendapatkan puluhan investor, pelaku menawarkan lagi untuk melakukan investasi yang lebih besar dan dengan jangka waktu yang lebih cepat lagi. Tak tanggung pelaku menawarkan investasi dengan bermodal Rp. 20 juta para investor akan mendapatkan bunga sebesar Rp. 30 juta.

Friska yang juga merupakan korban lainnya mengaku tertarik untuk berinvestasi dengan pelaku karena beberapa kali pelaku mengunggah bukti transfer pencairan bahkan sebelum hari yang telah jatuh tempo. 

“Ya tertarik karna setelah bergabung di grup wa itu dia beberapa kali kirim bukti pencairan jadi ga berfikir negatif, mikirnya dia jalanin ini bener aja apalagi beberapa kali dia sempat tunjukan dia lagi bekerja dan tunjukan bpkb sm sertifikat orang yang jadi kreditur dia,” ungkap Friska.

Sementara, kedua korban sebelumnya Asri mengaku tertarik dan percaya kepada pelaku lantaran terkecoh dengan penampilan pelaku yang terlihat parlente. Kepada

seluruh korban pelaku mengaku berasal dari keluarga kaya yang mempunyai beberapa bisnis yaitu pinjam meminjam, kost –kostan dan toko yang menyediakan onderdil mobil. Pelaku mengaku dana investasi yang diberikan oleh para investor akan di jadikan sebagai modal salah satu usaha tersebut. Menurut Asri, beberapa korban telah menghubungi pihak keluarga Veronika. Namun, pihak keluarga tidak ada yang merespon. 

"Kami sudah hubungi pihak keluarganya di Lampung, namun yang respon mengaku sebagai karyawannya dan selalu bilang orang tuanya tidak ada," katanya.

Baca juga: Cucu Soeharto Akui Jadi Member Investasi Bodong 'MeMiles'

Belakangan diketahui pada tahun 2014 lalu, sebuah portal berita online memberitakan bahwa ada selebaran ‘pemecatan’ orang tua kepada anaknya. 

“Mulai hari ini tanggal 1 Maret 2014 bukan lagi anak dari Bapak Tjong Tek Tjeng dan Ibu Kwan Sioe Hoa. Dan apapun segala perbuatan dan tindakannya bukan menjadi tanggung jawab kami, kedua orang tuanya,” demikian keterangan yang dikutip dari merdeka.com. 

Setelah di lakukan pengecekan terhadap nama ibu dan alamat serta tanggal lahir, para pelaku mensinyalir bahwa yang diberitakan dalam artikel tersebut

adalah pelaku. Para korban berharap agar pelaku segera ditangkap oleh pihak kepolisian. Kuasa hukum korban, Gracia Amanda menyatakan langkah hukum yang kini diambil oleh para korban lantaran sudah tidak adanya itikad baik dari pelaku untuk mengembalikan uang para korban.

“Sudah ditunggu lebih dari 2 minggu namun tidak ada kejelasan. Sekarang sudah tidak bisa dihubungi dan dilaporkan dengan dugaan tindak pidana Pasal 378 KUHP dan atau 372 tentang penggelapan dan ada indikasi TPPU. Bukti dan saksi semua sudah dipersiapkan,” jelasnya.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty

Berita Terkait: