Pantau Flash
Pemprov DKI Gandeng 26 Rumah Sakit Swasta Jadi Rujukan COVID-19
Wali Kota Bandung Minta Warga Waspadai Klaster Keluarga COVID-19
Kota Sukabumi Laporkan Kasus Kematian Pertama Akibat COVID-19
Kasus Baru Positif COVID-19 di Indonesia Hampir 5.000 per 25 September
Pembayaran Klaim Asuransi Terkait COVID-19 Capai Rp216 Miliar

Kata Pakar Virologi, Garda Terdepan Hadapi Korona Bukan Tenaga Medis

Kata Pakar Virologi, Garda Terdepan Hadapi Korona Bukan Tenaga Medis Pejalan kaki menggunakan masker saat melintas di kawasan MH Thamrin, Jakarta. (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

Pantau.com - Pakar virologi Abdul Rahman menilai garda terdepan dalam perang menghadapi pandemi virus korona baru (COVID-19) bukanlah tenaga medis, dokter, apalagi pemerintah melainkan masyarakat atau publik.

"Yang menjadi garda terdepan dalam perang melawan pandemi COVID-19 ini bukanlah dokter atau tenaga medis, apalagi pemerintah karena mereka merupakan garda terakhir. Namun, garda terdepan itu adalah masyarakat umum," ujar kandidat doktor dari Georg August University of Göttingen Jerman tersebut, dalam seminar daring bertajuk "Kebijakan Penanganan COVID-19: Belajar dari Jerman dan Amerika Serikat" di Jakarta.

Dia mengatakan kalau garda terdepan sudah tumbang maka terdapat garda berikutnya, yakni garda kedua dan ketiga dengan garda paling akhir adalah dokter dan tenaga medis.

Baca juga: Pasien Korona yang Meninggal Dunia Kebanyakan Punya Faktor Risiko Besar

Namun, kata dia, jika dokter dan tenaga medis sebagai garda paling akhir sudah tumbang, maka siapa lagi elemen bangsa yang bisa diandalkan untuk menghadapi perang melawan COVID-19.

"Apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat umum, pertama patuhi anjuran dan imbauan pemerintah, kemudian menjaga kesehatan diri serta lingkungan, lalu mengonsumsi makanan bergizi yang berimbang untuk meningkatkan sistem imunitas," kata Abdul Rahman.

Dia mengingatkan bahwa garda terdepan dalam perang melawan COVID-19  adalah masyarakat umum.

Oleh karena itu, kata dia, publik harus kuat dan sehat, serta menjaga kesehatan diri  dan lingkungan sekitar sebelum ke garda paling akhir.

Baca juga: Berani Nge-Lockdown PSBB di Jakarta? Penjara 1 Tahun dan Denda Rp100 Juta

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengambil kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). PSBB memang masih satu tingkat di bawah karantina wilayah (lockdown), namun sudah membuat pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpukul. "Tawaran" pemerintah melalui PSBB memang merupakan jalan terbaik untuk memutus penularan penyakit itu, tanpa membuat ekonomi merugi terlalu parah.

Namun efektivitas PSBB tergantung kepada kesadaran warga untuk bersama-sama memutus mata rantai penularan penyakit itu.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan upaya memberantas penyakit COVID-19 tidak bisa diserahkan kepada pemerintah sepenuhnya, tetapi tergantung kepada masyarakat, termasuk kalangan dunia usaha.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: