Pantau Flash
Mendag: Neraca Perdagangan RI Surplus dan Tertinggi
Jawa Tengah Bagian Selatan Masih Berpotensi Diguyur Hujan Ekstrem
Formula 1 Bakal Mentas di Sirkuit Kota Jeddah Arab Saudi untuk Pertama Kali
Perancis Tingkat Keamanan ke Level Tertinggi Pasca Penusukan di Gereja
Garuda Akan Garap Penerbangan Kargo untuk Ekspor Produk Laut

Kata Refly Harun Soal COVID-19: Lempar Handuk dan Taubat Nasuha

Kata Refly Harun Soal COVID-19: Lempar Handuk dan Taubat Nasuha Pakar hukum tata negara Refly Harun (Foto: Instgaram/reflyharun)

Pantau.com - Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia hanya dalam posisi menunggu, dan melihat apa yang akan dilakukan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menangani penyebaran COVID-19 di Tanah Air.

Di dalam video yang diunggah channel YouTube Refly Harun, ia menjelaskan, jika terdapat dua dimensi yang sangat melekat pada manusia. Pertama adalah vertikal, bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, Sang pencipta alam semesta.

Pengampunan dan pertaubatan adalah linear yang sangat jelas, dalam masa pandemi ini. Memperkuat itu, ia juga membacakan bagaimana keinginan Ketua Satgas Cakra Buana PDIP, yang meminta Presiden Jokowi dan jajarannya melakukan pertaubatan.

Baca juga: Refly Harun Sebut Harun Masiku Lebih Berbahaya Ketimbang Djoko Tjandra

Lalu ada hubungan usaha dari setiap manusia memberantas COVID-19, atau yang disebut dengan wilayah horizontal. Di mana, kerja keras pemerintahan adalah kuncinya. Namun Refly menilai, penanganan virus yang berasal dari Wuhan China itu bisa dianggap banyak terdapat silang pendapat. Ia mencontohkan, kebijakan Gubernur DKI jakarta dengan Menteri Kabinet Indonesia Maju Jilid II.

"Bahkan terkesan terjadi persaingan silang sengketa antara Gubernur DKI Jakarta dengan pungawa-punggawa Presiden Jokowi, bahkan dengan Presiden Jokowi sendiri. Bagaimana kita mau menanggulagi, jika di unit-unit masih terjadi persaingan," kata Refly, yang dikutip Pantau.com, Sabtu (19/9/2020).

Mantan komisaris utama Pelindo I itu melanjutkan, sebagai masyarakat hanya bisa melihat bagaimana hasil dari penanganan COVID-19 selama 6 bulan ini. Ia tak menampik, jika pro dan kontra tentu tidak dapat dipisahkan.

Baca juga: Risma Tegaskan Surabaya Hentikan Penggunaan Hotel untuk Isolasi Mandiri

"Tapi intinya adalah, kita lihat saja hasilnya. KIta makin dibelit COVID-19, makin banyak korban yang jatuh. Yang kena baru-baru saja Ketua KPU Arief Budiman kena COVID-19, sebelumnya Novida Ginting juga kena," paparnya.

"Bayangkan, apa strategi yang bisa dilakukan? kalau pemerintah yakin, put the stategy on the table, lalu dilaksanakan dengan konsisten. Tapi kalau tidak mampu lagi, ada dua kemungkinan. Kalau kita berbicara pertandingan, lempar handuk saja. Dan kita melakukan taubat nashuha."

Ia mengakhiri, ke depannya pemerintah sudah benar-benar melakukan strategi yang menghindari masyarakat dari ketakutan-ketakutan akibat COVID-19.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: