Pantau Flash
Gunung Semeru Erupsi, Warga Diperingatkan untuk Selamatkan Diri
Bus PO Sudiro Tungga Jaya Terbakar di Ruas Tol Semarang-Solo
Pemkab Garut Salurkan Bantuan Uang untuk Rumah Terendam Banjir
Disiplin Prokes Masih Jadi Satu Cara Cegah Varian COVID-19
Polri Terbitkan Perpol Pengangkatan 57 Eks Pegawai KPK

Sekian Lama Menyusahkan Masyarakat dengan Teror dan Bunga Tinggi, Warga China Pengendali Pinjol Ilegal Akhirnya Tertangkap

Sekian Lama Menyusahkan Masyarakat dengan Teror dan Bunga Tinggi, Warga China Pengendali Pinjol Ilegal Akhirnya Tertangkap Kepala Polda Kalimantan Selatan, Inspektur Jenderal Polisi Rikwanto, memberi keterangan pers tentang kasus pinjaman online yang melibatkan warga negara Tiongkok, di Banjarmasin, Rabu. ANTARA/Firman

Pantau.com - Polres Kotabaru di Kalimantan Selatan meringkus seorang warga negara China berinisial SM yang mengendalikan penagihan pinjaman online yang dilakukan oleh PT Jasa Muda Collector (JMC).

"Total ada tiga tersangka dalam kasus pinjol ini, satu WNA dan dua WNI berinisial KH dan DU seorang wanita," kata Kepala Polda Kalimantan Selatan, Inspektur Jenderal Polisi Rikwanto, di Banjarmasin, Rabu (27/10/2021).

Ia menyatakan, PT JMC merupakan perusahaan jasa penagihan pinjaman online yang bekerja sama dengan sejumlah aplikasi kredit online, di antaranya Cashgo, Dana Mudah, Jiang Zian, Cash Pro, Jarikaya, Xintu, Ayo Pinjam, Ikan Nas, Kredit Kur, dan Duitku.

"Jadi nasabah atau debitur yang tidak melakukan pembayaran tepat waktu atau menunggak mendapatkan ancaman penyebaran data pribadi dan sebagainya," katanya.

Baca juga: Hasil Survei Capres Tempati Posisi Atas, Ganjar Pranowo Enggan Berkomentar

Kasus bermula hasil penyelidikan tim yang dipimpin Kepala Polres Kotabaru, AKBP M Gafur Siregar, dan Kepala Satuan Reskrim Polres Kotabaru, AKP Abdul Jalil, hingga polisi menggerebek kantor PT JMC, di Jalan Brigadir Jenderal Polisi H Hasan Basri, di Desa Semayap, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru.

Adapun barang bukti disita 90 unit komputer yang dioperasikan 35 operator. Setiap operator menagih secara daring terhadap 400 debitur perhari.

"Jadi setelah dicek dokumennya, mereka tidak memiliki penunjukan resmi dari pemilik aplikasi pinjol dan tidak terdaftar di OJK," kata Rikwanto, yang didampingi Direktur Reskrimsus Polda Kalimantan Selatan, Komisaris Jenderal Polisi Suhasto, dan Kabid Humas Polda Kalimantan Selatan, Komisaris Besar Polisi Mochamad Rifa'i.

Baca juga: PDIP Ogah Asal-Asalan dalam Memilih Pengganti Jokowi, Faktor yang Satu Ini Bakal Jadi Penentu

Para tersangka ditahan polisi dan dijerat pasal berlapis yaitu UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta pasal 185 juncto pasal 88 A ayat (3) juncto pasal 88E ayat (2) UU Nomor 11/2020 Tentang Cipta Kerja.

"Kasus ini masih kami dalami dan kembangkan untuk menelusuri aliran dananya karena diketahui korban sangat banyak yang berasal dari penjuru Indonesia," kata Siregar.

Tim Pantau
Editor
Adryan N
Penulis
Adryan N

Berita Terkait: