Pantau Flash
Kasus Korona di AS Terus Meningkat, Emas Jatuh Investor Beralih ke Dolar
Luis Suarez Sepakati Kontrak 2 Tahun Bersama Atletico Madrid
Pertamina EP Asset 3 Berhasil Tingkatkan Produksi Migas
Pemprov DKI Gandeng 26 Rumah Sakit Swasta Jadi Rujukan COVID-19
Wali Kota Bandung Minta Warga Waspadai Klaster Keluarga COVID-19

Soal Penanganan Radikalisme, Wapres Minta Khatib Dilibatkan BNPT

Soal Penanganan Radikalisme, Wapres Minta Khatib Dilibatkan BNPT Wapres Jusuf Kalla. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Pantau.com - Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin, meminta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius untuk melibatkan para khatib dalam program penanganan radikalisasi dan penanggulangan terorisme di dalam negeri.

Menurut Ma'ruf, para penceramah tersebut memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan dan ajaran Islam yang damai kepada masyarakat, khususnya umat Islam.

Baca juga: Cegah Radikalisme, Ganjar Imbau Anak Muda Cari Guru yang Benar

"Di sini ada Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius, saya minta kepada beliau untuk menjadi leading sector untuk menangani radikalisme. Dan saya minta Kepala BNPT untuk bekerja sama, menggunakan khatib-khatib ini untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada masyarakat," kata Wapres Ma'ruf Amin saat membuka Rakernas II dan Halaqah Khatib Indonesia di Istana Wapres Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Sebagai koordinator program penanggulangan radikal terorisme nasional, Ma'ruf menjelaskan, pihaknya mengutamakan dua pendekatan dalam menangani radikalisme, yakni kontra-radikalisasi dan deradikalisasi.

Ma'ruf mengatakan, pendekatan kontra-radikalisasi dilakukan untuk menekan penyebarluasan paham radikal yang telah terjadi di sebagian kecil kelompok masyarakat. Kontra-radikalisasi menjadi upaya preventif yang dilakukan Pemerintah untuk menghindari lebih banyak lagi aksi radikal terorisme.

"Kontra-radikalisasi itu bagaimana kita menangkal terhadap radikalisasi, melakukan imunisasi masyarakat supaya tidak terprovokasi, tidak terpengaruh oleh cara berpikir dan cara bersikap radikal yang berpotensi melahirkan terorisme," tuturnya.

Sementara pendekatan deradikalisasi bertujuan untuk menghilangkan pemahaman radikal bagi pelaku teror dan penganut paham radikal.

Lebih lanjut, ia meminta Ikatan Khatib Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga turut mendorong program Pemerintah dalam menanggulangi radikal terorisme, dengan ikut memberikan pemahaman kepada para khatib akan bahaya paham radikal.

Baca juga: Meski Potensi Radikalisme Turun, BNPT Tegaskan Tak Boleh Lengah

"Oleh karena itu saya minta itu dipahami betul oleh para khatib, karena khatib merupakan juru dakwah utama dan terdepan, mempunyai peran penting dalam ibadah dan peran sosial yang luas," tandasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: