Pantau Flash
Mendag: Neraca Perdagangan RI Surplus dan Tertinggi
Jawa Tengah Bagian Selatan Masih Berpotensi Diguyur Hujan Ekstrem
Formula 1 Bakal Mentas di Sirkuit Kota Jeddah Arab Saudi untuk Pertama Kali
Perancis Tingkat Keamanan ke Level Tertinggi Pasca Penusukan di Gereja
Garuda Akan Garap Penerbangan Kargo untuk Ekspor Produk Laut

Tak Hanya Anak-anak, Orang Dewasa Juga Perlu Lakukan Vaksinasi

Tak Hanya Anak-anak, Orang Dewasa Juga Perlu Lakukan Vaksinasi Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Dokter spesialis penyakit dalam dan vaksinolog, Dirga Sakti Rambe, mengatakan vaksinasi bagi orang dewasa perlu dilakukan, terutama jika orang tersebut pada masa kecilnya belum pernah vaksinasi sama sekali.

Tidak hanya itu, dia melanjutkan, sebagian besar vaksin memerlukan pengulangan, sebab merupakan kelanjutan vaksinasi pada saat anak-anak.

"Artinya pada saat kecil sudah pernah divaksinasi, tapi pada saat dewasa perlu diulang karena proteksi vaksinnya sudah habis atau perlu ditingkatkan lagi," ujar Dirga.

Baca juga: Peneliti: Kini Masker Lebih Efektif Cegah COVID-19 Ketimbang Vaksin

Selain itu, urgensi vaksinasi untuk orang dewasa adalah risiko pekerjaan, misalnya pada seseorang yang berprofesi sebagai dokter. Kegiatan travelling juga menjadi alasan lainnya. Sebagai contoh, kegiatan haji atau umrah diperlukan vaksin meningitis.

Ada 15 jenis vaksin yang direkomendasikan untuk orang dewasa, di antaranya Hepatitis A/B dan tetanus. Secara spesifik, terutama selama pandemi seperti saat ini, mengutip dari WHO, Dirga mengatakan orang dewasa perlu mendapatkan vaksinasi influenza dan pneumonia.

Pada prinsipnya, Dirga menjelaskan, vaksin adalah suatu zat yang bila diberikan kepada seseorang akan memicu kekebalan terhadap suatu penyakit yang spesifik. Sementara pada keadaan normal, artinya tanpa vaksinasi, orang kebal harus sakit terlebih dahulu.

"Tetapi kalau sakitnya COVID kan bahaya ya, jadi konsep utamanya adalah orang kebal tanpa harus sakit," ujar Dirga.

Kandungan vaksin yang utama, Anti-gen, lanjut Dirga, merupakan komponen dari virus dan bakteri yang nantinya dikenali oleh tubuh sehingga tubuh membentuk antibodi.

"Jadi bukan berarti vaksin itu isinya virus yang dilemahkan atau bakteri yang dimatikan, tidak selalu seperti itu. Dan, tentunya ada komponen lainnya, yang disebut Ajuvan, untuk meningkatkan efektivitas vaksin, ada stabilizer," kata Dirga.

Bahkan, dalam prosesnya, Dirga menjelaskan, pembuatan vaksin mengutamakan keamanan dengan melalui proses panjang, mulai dari penelitian pada hewan, manusia, berjumlah puluhan, ratusan hingga ribuan orang, sehingga didapatkan hasil apakah vaksin itu aman dan efektif.

Lebih lanjut, mengutip data dari WHO, Dirga mengatakan, setidaknya setiap tahun ada 2-3 juta nyawa yang terselamatkan dari penyakit-penyakit yang bisa dicegah dari imunisasi.

"Ini proses bioteknologi yang sangat kompleks, sehingga sesudah pada hasil akhirnya terjamin amannya dan kualitasnya sehingga dapat diberikan secara massal," kata Dirga.

Baca juga: Pandemi Korona Jangan Jadi Halangan untuk Vaksin Anak

Meski begitu, Dirga tidak memungkiri vaksin memang memiliki efek samping. Dia menyebut sebanyak 95 persen vaksin memiliki efek samping sangat ringan atau lokal yaitu, nyeri di bekas suntikan.

Terkadang, lanjut Dirga, vaksin dapat menyebabkan demam. Namun, demam tersebut merupakan tanda bahwa vaksin bekerja atau tanda sistem kekebalan itu terstimulasi.

"Imunisasi atau vaksinasi itu bukan hanya tanggung jawab pribadi, kita tidak bicara hanya untuk melindungi diri kita sendiri. Tapi, imunisasi adalah tanggung jawab sosial karena pada masyarakat atau penduduk yang cakupan imunisasi rendah, maka penyakit gampang menyebar," ujar Dirga.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty

Berita Terkait: