Forgot Password Register

AS Dinilai 'Kehilangan' Mental Usai Cabut dari Kesepakatan Nuklir Iran

AS Dinilai 'Kehilangan' Mental Usai Cabut dari Kesepakatan Nuklir Iran Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian memperingatkan sikap keras Amerika Serikat terhadap Iran sangat mungkin menyulut ketegangan di kawasan Timur Tengah. Ia pun menilai sikap AS seperti tidak memiliki mental.

"Kita berada pada kegoyahan parah. Segalanya ditanggapi dengan sikap membara," kata Le Drian.

Le Drian mengatakan kesepakatan nuklir Iran merupakan harta yang harus dijaga. Lantas, jika ditinggalkamn bisa memperkeruh suasana yang sedang tegang.

Baca juga: Selesaikan Latihan Militer Bersama AS, Korsel Tunda Pertemuan dengan Korut Hingga 25 Mei

Sebelumnya, pada pekan ini, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengancam menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran jika negara itu menolak mengekang program peluru kendali balistik serta pengaruhnya di kawasan tersebut.

"Kita tidak setuju dengan cara itu karena sekumpulan sanksi ini, yang akan dikenakan terhadap Iran, tidak akan memungkinkan dialog terjadi dan, kebalikannya, akan memperkuat kalangan konservatif serta melemahkan Presiden (Hassan) Rouhani," paparnya.

"(Penjatuhan) sanksi-sanksi ini tidak bisa diterima. Kita tidak bisa membiarkan sanksi-sanksi tersebut menjadi sesuatu yang sah," tambahnya.

Kesepakatan nuklir Iran, yang secara resmi disebut dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama, ditandatangani pada Juli 2015 oleh Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa, yaitu Inggris, China, Prancis, Rusia dan Amerika Serikat, serta dengan Uni Eropa dan Jerman.

Baca juga: Prancis Kecam Sanksi Berat AS Terhadap Iran

Berdasarkan atas kesepakatan itu, Iran setuju membekukan program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sebagian besar sanksi internasional.

Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk menarik AS dari perjanjian itu, yang ditandatangani di bawah pemerintahan pimpinan pendahulunya --Barack Obama.

Trump mengatakan perjanjian tersebut tidak menangani masalah program rudal balistik Iran, kegiatan nuklir Iran setelah 2025 dan peranan negara itu dalam konflik-konflik di Yaman dan Suriah.

Namun, menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) di Wina, Iran sejauh ini mematuhi semua persyaratan, yang ditentukan dalam kesepakatan tersebut.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More