
Pantau - Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan skeptisisme terhadap rencana perluasan misi angkatan laut Uni Eropa di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang berdampak pada jalur energi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Wadephul dalam wawancara dengan lembaga penyiaran publik Jerman ARD pada Minggu, 15 Maret.
Ia menyoroti rencana perluasan misi Uni Eropa yang dikenal dengan nama Aspides ke wilayah Selat Hormuz.
Wadephul menyatakan dirinya "sangat skeptis" terhadap kemampuan misi tersebut dalam meningkatkan keamanan maritim di kawasan strategis tersebut.
Menurutnya, operasi tersebut bahkan dinilai "belum efektif" di wilayah penempatan utamanya di Laut Merah.
Skeptisisme terhadap Efektivitas Misi Aspides
Wadephul menekankan bahwa keamanan jalur pelayaran internasional tidak dapat dijamin hanya melalui operasi militer yang terbatas.
Ia menyatakan bahwa keamanan kawasan baru dapat benar-benar terjamin apabila konflik militer yang sedang berlangsung diselesaikan secara menyeluruh.
"Eropa selama ini tetap memberikan dukungan konstruktif dalam upaya menjaga keamanan rute pelayaran internasional," ungkapnya.
Namun demikian, ia menilai tidak ada kebutuhan yang mendesak bagi Jerman untuk terlibat dalam rencana perluasan operasi tersebut.
Ia menegaskan bahwa dirinya "tidak melihat adanya kebutuhan mendesak ataupun, yang terpenting, bahwa Jerman perlu berpartisipasi."
Ketegangan Timur Tengah Picu Gangguan Energi Global
Wadephul juga menyampaikan tuntutan kepada Amerika Serikat dan Israel terkait konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
"Tuntutan kami kepada Amerika Serikat dan Israel adalah agar terus memberi kami informasi dan memberi tahu kami tujuan konkret yang masih ingin dicapai, lalu mendiskusikan dengan kami bagaimana perang ini dapat diakhiri," tegasnya.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota lain di Iran.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah komandan militer senior, serta lebih dari 1.300 warga sipil.
Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone yang menargetkan pangkalan serta aset militer milik Israel dan Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.
Ketika konflik memasuki pekan ketiga, Selat Hormuz dilaporkan mengalami penutupan secara efektif.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Penutupan jalur tersebut memicu gangguan serius terhadap pasar energi global.
Dampak situasi tersebut juga mulai dirasakan pada ekonomi dunia yang semakin tertekan akibat terganggunya distribusi energi internasional.
- Penulis :
- Leon Weldrick







