Forgot Password Register

Headlines

Ini 'Rayuan' Sri Mulyani Soal Penyesuaian PPh Impor ke Pengusaha

Ini 'Rayuan' Sri Mulyani Soal Penyesuaian PPh Impor ke Pengusaha Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan penyesuaian Pajak Penghasilan (PPh) yang diimplementasikan dalam PMK 110. Ia mengatakan hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya menekan defisit transaksi berjalan. 

"Konsumsi impor kita pada Juli melonjak 54 persen. Agustus masih kuat, meski turun diatas 30 persen, Ekspor sementara 7 persen. Kalau ini dibiarkan, melebar defisitnya sementara financing snagat berat karena itu pemerintah bikin kebijkana pengendalian impor dan substitusi barang-barang yang bisa di substitusi sepeti B20," ujarnya dihadapan 1.200 pengusaha dalam sebuah acara di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018).

Baca juga: Di Hadapan Sri Mulyani, Pengusaha Ngeluh Dampak Perekonomian Global

Selain itu, ketentuan ini juga dilakukan pada 1.147 hs code yang dinilai menyumbang defisit neraca pembayaran. Kendati demikian menurutnya ia tak berharap kebijakan ini ditetapkan secara drastis.

"Karena itu upaya pemerintah dari sisi komunikasi, impor 1147 kota godok cepat, Kalau kita nikkan 2.5 jadi 10 persen bayangkan anda impor sekarang, anda terkena rupiah lebih mahal 10 persen jadi dalam negeri dan luar sekitar 17 smaoai 18 persen ini yang saya harpakan idnsutri dalam negeri ini oh ini kesempatan saya produksi dari berbagai impor luar negeri," paparnya. 

Lebih lanjut pihaknya mengaku berharap dengan kebijakan-kebijakan ini pengusaha dapat melakukan penyesuaian terkait kesempatan dan tantangan yang ada kedepannya.

"Kami harap dengan berbagai macam terobosan kebijakan itu bisa memberi harapan kepada pengusaha bahwa waktu ada tantangan ada opportunity, kesempatan ini yang kita kuatkan," pungkasnya.

Baca juga: Menko Darmin Hati-hati, Penundaan PSN Masih Dipilih

Seperti diketahui sebelumnya, Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2018 tercatat USD8,0 miliar atau Rp114,4 triliun (Kurs Rp 14.300 perdolar AS) yakni mencapai 3,0 persen dari  PDB. 

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar USD5,7 miliar atau Rp81,51 triliun yakni 2,2 persen PDB. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik, Yati Kurniati mengatakan defisit disebabkan oleh aktivitas ekonomi domestik. 

"Sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik, defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II 2018 mengalami kenaikan. Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2018 tercatat USD8,0 miliar (3,0 persen PDB)," ujarnya saat jumpa pers di Gedung Thamrin, Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (10/8/2018).

Share :
Komentar :

Terkait

Read More