Pantau Flash
Manokwari Rusuh, Polisi Cari Penyebar Konten Video Provokasi
Kerusuhan Manokwari: 3 Polisi Jadi Korban, Kapolda dan Pangdam Dilempari
Fix! Donald Trump Tegaskan AS Tak Akan Berbisnis Dengan Huawei
Ada Aksi Protes Pengusiran Mahasiswa Papua di Surabaya, Manokwari Lumpuh
Produk Indonesia Curi Perhatian di Pameran NY NOW 2019

Inikah Akhir Cerita Boeing 737 Max 8 Melintasi Langit?

Inikah Akhir Cerita Boeing 737 Max 8 Melintasi Langit? FAA mengatakan sistem kontrol otomatis 737 MAX merupakan salah satu masalah yang harus diperbaiki. (Foto: Flickr/Paul Thompson via ABC News)

Pantau.com - Amerika Serikat mengatakan bahwa pesawat Boeing 737 MAX 8 masih layak terbang, di saat pihak regulator mengkaji dua kecelakaan fatal pesawat model baru itu sejak bulan Oktober lalu. Namun Administrasi Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) telah meminta perubahan desain yang harus harus diselesaikan Boeing di bulan April.

Jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines Max 8 dalam penerbangan ke Nairobi dari Addis Ababa jatuh beberapa menit setelah lepas landas hari Minggu, menewaskan 157 orang di dalamnya, dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai keamanan pesawat tersebut.

Melansir ABC News, Selasa (12/3/2019), pesawat yang sama yang digunakan oleh Lion Air juga mengalami musibah bulan Oktober lalu di perairan Laut Jawa menewaskan 189 orang.

Baca juga: Setelah China, Kini Meksiko Tangguhkan Penggunaan Boeing 737 Max

Penemuan kotak hitam pesawat berarti bahwa sebab kecelakaan akan segera diketahuui, sepanjang rekaman dalam kotak hitam itu tidak rusak, walau biasanya diperlukan waktu setahun bagi penyelidikan rinci untuk mengetahui seluruh masalahnya.

China dan Indonesia sudah memutuskan untuk tidak lagi menerbangkan armada 737 MAX 8 hari Senin, dengan alasan keamanan, hal yang menyebabkan saham Boeing jatuh 7 persen di bursa Amerika Serikat hari Senin.

FAA meminta perubahan desain 737 MAX di bulan April


Boeing jenis 737 merupakan pesawat jet yang paling banyak terjual dengan rekam jejak keamanan paling bagus. (Foto: Flickr/Paul Thompson via ABC News)

Dalam sebuah pernyataan FAA mengatakan Boeing sedang bekerja untuk menyelesaikan 'penguatan sistem kontrol pesawat, yang bisa mengurangi ketergantungan dengan prosedur yang ada hubunganya hal yang harus diingat oleh pilot."

Reuters dan media lain sudah melaporkan bahwa Boeing sudah berbulan-bulan merencanakan perubahan desain setelah kecelakaan Lion Air di Indonesia, namun pernyataan FAA ini merupakan konfirmasi publik pertama.

FAA mengatakan pernyataan terbuka ini bahwa ada kesamaan antara kecelakaan di Ethiopia dan di Indonesia. "Namun, penyelidikan baru dilakukan, dan sampai sekrang kami belum mendapatkan data untuk bisa membuat kesimpulan atau tindakan." kata pernyataan FAA.

"Saya ingin menyakinkan semua pihak bahwa kami menangani insiden ini dengan sangat..sangat serius." kata Menteri Transportasi Amerika Serikat Elaine Chao .

Dalam email yang dikirim kepada karyawan yang dilihat oleh Reuters, Direktur Eksekutif Boeing Dennis Muilenburg mengatakan dia yakin dengan keamanan pesawat 737 MAX.

Baca juga: China Airlines 'Kurung' Semua Boeing 737 Max

Menyusul musibah Ethiopia Airlines, saham Boeing jatuh ke titik terendah sejak serangan 11 September 2001, dengan saham jatuh sebesar 13,5 persen hari Senin pagi, di tengah kekhawatiran bahwa dua kecelakan dalam waktu pendek bisa menunjukkan adanya kesalahan besar dalam desain pesawat.

Dalam penutupan bursa di Amerika Serikat, saham Boeing berada di titik USD400,01 dalam perdagangan paling banyak sejak Juli 2013.

Seri 737 dari Boeing ini sudah terbang lebih dari 50 tahun, dan merupakan salah satu pesawat yang paling bayak terjual, dan dipandang sebagai pesawat yang paling aman.

China sudah memerintahkan maskapai setempat untuk tidak menggunakan pesawat tersebut, yang segera diikuti oleh Indonesia dan Ethiopia, dan juga maskapai seperti Comair di Afrika Selatan, dan Royal Air Maroc dari Maroko.

Maskapai Australia Virgin Australia telah memesan 30 pesawat serupa, namun sampai sekarang belum ada yang digunakan. Maskapai lain, mulai dari Amerika Utara sampai ke Timur Tengah, masih menggunakan 737 MAX 8 setelah Boeing mengatakan pesawatnya aman.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: