Forgot Password Register

Kata Eks Menlu Inggris, Kasus Khashoggi Bikin Saudi Tiarap di Hadapan Iran

Kata Eks Menlu Inggris, Kasus Khashoggi Bikin Saudi Tiarap di Hadapan Iran Boris Johnson. (Foto: Reuters/Simon Dawson)

Pantau.com - Mantan menteri luar negeri Inggris, Boris Johnson mengeluarkan argumen menarik untuk menemukan pembunuh kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi. 

Seperti diketahui, Khashoggi, seorang pengritik yang mengasingkan diri dari Putra Mahkota saat ini, Mohammed bin Salman, terakhir terlihat memasuki konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober. Hingga akhirnya dinyatakan tewas akibat perkelahian. 

“Saya tidak punya keraguan tentang apa yang terjadi (terhadap Khashoggi). Rencana untuk memancing dia ke konsulat Saudi; serangan biadab oleh para panglima dari tim keamanan Putra Mahkota Mohammed bin Salman; pemenggalan tubuh," katanya, yang dikutip dari RT, Jumat (9/11/2018).

Baca juga: Menolak Lupa Pembantaian Jamal Khashoggi

"Saya juga tidak meragukan untuk sedetik bahwa pembunuhan yang menjijikkan ini diperintahkan pada tingkat tertinggi rezim Saudi."

Menariknya, kata-kata Johnson tentang "tingkat tertinggi" persis dengan pernyataan Presiden Turki Recep Erdogan, yang mengatakan bahwa orang-orang Turki tahu bahwa perintah untuk membunuh Khashoggi berasal dari tingkat tertinggi pemerintah Saudi.

Boris tampaknya memiliki pikiran yang sama, tetapi ia mengambil taktik yang berbeda. Namun menurutnya, jika Saudi tidak menghukum mereka yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi, dan mengakhiri perang di Yaman, maka hal itu akan memberikan kemenangan kepada Iran. 

Iran sebagai akar dari semua kejahatan di Timur Tengah adalah sebuah trope yang sering dimunculkan oleh pemerintahan Trump, Saudi dan Israel, dan Boris berusaha keras untuk mengakui bahwa dia setuju dengan itu.

"Kami tidak akan memasukkan kembali Iran ke dalam kotaknya kecuali kami menerima bahwa Iran juga sangat terampil dalam mengeksploitasi konsekuensi dari kebijakan Barat dan sekutu-sekutunya," kata Boris/

Baca juga: IRC: Warisan Jamal Khashoggi adalah Perdamaian di Yaman

Sebagai contoh, ia mencantumkan invasi Israel tahun 1982 ke Lebanon, invasi AS tahun 2003 bahwa secara nyata menyerahkan (Irak) dan upaya Barat yang yang gagal pada perubahan rezim di Suriah. Di Yaman, Johnson berpendapat, Iran tidak memilki pengaruh dan tidak ada kepentingan strategis yang nyata hingga koalisi pimpinan-Saudi memulai kampanye pada 2015.

"Fakta yang jelas adalah bahwa kampanye belum berhasil. Baik pembunuhan Khashoggi dan perang di Yaman buruk untuk Arab Saudi dan baik untuk Iran," kata dia.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More