Pantau Flash
Kerusuhan Manokwari: 3 Polisi Jadi Korban, Kapolda dan Pangdam Dilempari
Fix! Donald Trump Tegaskan AS Tak Akan Berbisnis Dengan Huawei
Ada Aksi Protes Pengusiran Mahasiswa Papua di Surabaya, Manokwari Lumpuh
Produk Indonesia Curi Perhatian di Pameran NY NOW 2019
Fakhri Husaini Evaluasi 2 Hal Usai Timnas Dikalahkan Malaysia di Semifinal

Kata Pemerintah Soal Hitungan Bisnis Pertambangan Indonesia saat Ini

Headline
Kata Pemerintah Soal Hitungan Bisnis Pertambangan Indonesia saat Ini Kegiatan operasional di PT Freeport Indonesia (Foto: Freeport)

Pantau.com - Extractive Industries Transparancy Initiative (EITI) Indonesia mencatat adanya penurunan sumbangsih industri penambangan atau ekstraktif. Hal ini disampaikan berdasarkan data tahun 2016. 

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kemenko Perekonomian, Montty Girianna mengatakan data pada tahun 2016 mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kontribusi industri ekstraktif terhadap total PDB pada 2016 adalah sebesar 7 persen, turun dibandingkan posisi 2015 yaitu sebesar 8 persen dari total PDB nasional," ujarnya dalam diskusi yang digelar di Gedung Ali Wardhana, Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019).

Baca juga: Jika Tiket Pesawat (Masih) Mahal, Mudik Lewat Tol Diprediksi Padat

"Secara nominal, pada 2016 jumlah pendapatan dari industri ekstraktif menurun sebesar 31 persen menjadi Rp159,4 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp232,4 triliun," imbuhnya.

Montty menduga hal ini disebabkan karena komoditas yang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Salah satunya karena adanya perubahan harga ekspor komoditas. 

"Salah satunya karena ekspor komoditas, harga turun, tidak hanya di kita," ungkapnya.

Baca juga: Cerita Persaingan Sewa Power Bank dengan Fasilitas Gratis Stasiun

Selain itu kata dia, penyebab lainnya yakni produksi komoditas juga mengalami penurunan karena berbagai hal. Ditambah lagi, PDB dari pertambangan masih mendapatkan tekanan dari harga minyak yang masih belum pulih khususnya pada 2016.

"Pada 2016, kontribusi nilai ekspor pertambangan dari total ekspor nasional sekitar 21 persen. Nilai ekspor tersebut didominasi oleh nilai ekspor dari migas dan batubara," ungkapnya.

Untuk diketahui, ekspor migas berkontribusi sekitar 8,4 persen dari total nilai ekspor nasional sedangkan nilai ekspor batubara mencapai 10 persen dari total nilai ekspor nasional.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: