Forgot Password Register

Ketergantungan Impor Bakal 'Pukul' Nilai Tukar Rupiah

Uang Rupiah. (Foto: Pantau.com/Ammad) Uang Rupiah. (Foto: Pantau.com/Ammad)

Pantau.com - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Achmad Hafisz Tohir mengatakan nilai tukar rupiah saling terkait dengan indikator makro. Seperti PDB (Produk Domestik Bruto), harga minyak mentah dunia, investasi, serta inflasi. 

Ia memaparkan, PDB mencerminkan nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara. Nilai PDB berbanding lurus dengan daya saing ekonomi. 

"Semakin melemah nilai rupiah maka PDB akan semakin menurun dan PDB yang meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik akan menyokong nilai rupiah. Sebaliknya defisit neraca perdagangan yang bertambah akan membuat rupiah terdepresiasi," ujarnya saat dihubungi Pantau.com.

Baca juga: Tren Pelemahan Rupiah Berlanjut, BI Diminta Hati-hati Lakukan Intervensi Pasar

Hal inilah yang menurut Hafisz dapat menuntut Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan impor. "Inilah sebabnya kenapa sangat penting bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor dan mengurangi ketergantungan impor," katanya.

Ia mengatakan, bagi importir guncangan terhadap rupiah yang tajam membuat resiko nilai tukar semakin besar. "Apalagi sejumlah industri manufaktur seperti farmasi, mesin dan kimia memiliki ketergantungan bahan baku," katanya.

"Resiko tersebut juga terjadi pada nilai utang pemerintah dan swasta dalam bentuk mata uang asing," imbuhnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More