Pantau Flash
Catat! Ada Denda Rp300 Ribu Jika Anda ‘Ngasal’ Kendarai GrabWheels
LAN: 37 Persen ASN Punya Latar Belakang Pendidikan Tak Sesuai Kompetensi
Saddil Ramdani Pamit dari Pahang FA
Chandra Hamzah Akan Pimpin BUMN Sektor Perbankan
Defisit APBN Melebar Mencapai 1,80 Persen di Oktober 2019

Mengenang Catatan 5 Tahun Imam Nahrawi sebagai Menpora

Headline
Mengenang Catatan 5 Tahun Imam Nahrawi sebagai Menpora Imam Nahrawi. (Foto: Pantau.com/Tatang Adhiwidharta)

Pantau.com - Imam Nahrawi telah resmi mundur dari jabatannya sebagai menteri pemuda dan olahraga (Menpora) pada Kamis (19/9/2019). Pasalnya, ia ditetapkan sebagai tersangka kasus suap pemberian dana hibah KONI oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Imam Nahrawi menjadi menteri kedua yang mundur dari jabatannya akibat tersangkut masalah korupsi. Sebelumnya ada Idrus Marham selaku Menteri Sosial pada tahun lau.

Namun, kali ini kita membahas sepak terjang pria asal Bangkalan, Madura itu sejak menduduki jabatan menpora. Imam Nahrawi ditunjuk sebagai menpora pada 26 Oktober 2014, ketika itu ia menjadi salah satu menteri termuda karena berusia 41 tahun dalam kabinet kerja.

Baca juga: Menpora Imam Nahrawi Terima Suap Dana Hibah KONI Sebanyak Rp26,5 Miliar

Imam menggantikan peran Roy Suryo di Kabinet Indonesia Bersatu II era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009-2014. Imam sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jendral DPP PKB.

Di masa kepemimpinannya, banyak prestasi olahraga yang dicapai Indonesia. Salah satu pencapaian terbesarnya ketika Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games untuk kali kedua sepanjang sejarah pada 2018.

Imam Nahrawi bersama Presiden Jokowi jelang persiapan Asian Games 2018. (Foto: Antara)

Dalam event itu, Indonesia sukses menjadi tuan rumah yang baik. Bahkan prestasi Indonesia di luar prediksi, mampu finis di urutan keempat klasemen perolehan medali, dengan rincian 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu di bawah China, Jepang dan Korea Selatan yang merupakan negara Asia terkuat di bidang olahraga.

Selain itu, Indonesia juga sukses menyelenggarakan Asian Para Games yang merupakan ajang multievent kelas Asia bagi difabel. Indonesia meraih posisi kelima di klasemen perolehan medali.

Dalam dua event di atas, Imam Nahrawi mewakili pemerintah memberikan bonus sebesar Rp1,5 miliar bagi para peraih medali emas. Ini pun menjadi momentum sejarah untuk kali pertama penyetaraan bonus untuk atlet biasa dengan atlet difabel.

Baca juga: Pantau Sorot: Cetak Sejarah, Ini 6 Hal Menarik Asian Para Games 2018

Sebelumnya, Indonesia juga kembali melanjutkan tradisi raihan medali emas Olimpiade pada 2016 yang sempat hilang di 2012. Kala itu, Indonesia meraih satu medali lewat cabang olahraga bulu tangkis dari nomor ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Imam Nahrawi pun lagi-lagi memberikan bonus kepada Tontowi/Liliyana dengan sangat besar. Saat itu tercatat, mereka mendapatkan Rp5 miliar dan menjadi bonus terbesar dalam sejarah.

Atas perhatian yang penuh dengan profesi atlet, Imam mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) terkait bonus kepada atlet yang meraih prestasi level dunia untuk single event. Seperti yang diterima ganda putra Indonesia dari cabang bulu tangkis Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang menjadi juara dunia All England 2019.

Imam Nahrawi mencabut SK untuk pembekuan PSSI di kantor Kemenpora. (Foto: Tatang Adhiwidharta)

Alumni IAIN Sunan Ampel itu juga sempat membuat heboh dunia sepakbola Indonesia pada 2015. Pada 17 April 2015, Imam menandatangani Surat Keputusan (SK) bernomor 0137 tahun 2015 tentang pembekuan PSSI.

Dalam surat itu, Kemenpora memberikan sanksi administratif berupa tidak mengakui seluruh kegiatan PSSI. Selain tidak mengakui, Menpora juga menyatakan setiap keputusan dan atau tindakan yang dihasilkan PSSI termasuk Keputusan hasil Kongres Biasa dan Kongres Luar Biasa tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, tidak sah dan batal demi hukum bagi organisasi, pemerintah di tingkat pusat dan daerah maupun pihak-pihak lain yang terkait.

Pembekuan PSSI pun berlangsung selama setahun, tepatnya sampai 10 Mei 2016. Akibat pembekuan itu, PSSI tak bisa menggelar kompetisi resmi. Alhasil, FIFA menjatuhkan sanksi suspensi ke Indonesia yang berimbas pada Timnas Indonesia tak bisa berlaga di pentas internasional. Hingga akhirnya 10 Mei 2016, menpora mencabut SK pembekuan PSSI.

“Kami tak pernah membekukan PSSI, kami hanya memberikan sanksi administratif perihal kegiatan PSSI. Saya berharap juga kepada masyarakat untuk bersabar, karena ke depannya sepakbola indonesia semakin baik dan maju," papar Imam kala itu.

Kini, hampir lima tahun menjabat, Imam Nahrawi menjadi salah satu menteri yang aman dari empat jilid reshuffle. Hingga akhirnya ia tersangkut masalah hukum dengan dijadikan tersangka kasus suap pemberian dana hibah KONI.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Tatang Adhiwidharta
Category
Olahraga

Berita Terkait: