Pantau Flash
Hasil Liga Inggris Semalam: Liverpool Kembali Menjauh
Bendungan Ciawi Sudah Capai 44,97 Persen
APERSI Target Bangun 100.000 Rumah Subsidi
Dewas: Revisi UU KPK Melemahkan
Yenny Wahid Persilakan Pegawai Garuda yang Merasa Dilemahkan Mendatanginya

Pasca Tragedi Christchurch 4 Bulan Lalu, Teror Kembali Serang Selandia Baru

Pasca Tragedi Christchurch 4 Bulan Lalu, Teror Kembali Serang Selandia Baru Sejumlah senjata semi-otomatis gaya militer dalam gunshop di Christchurch, Selandia Baru. (Foto: Reuters/Jorge Silva)

Pantau.com - Ritel Selandia Baru, Gun City, yang menjual senjata kepada orang yang dituduh melakukan penembakan di dua masjid di Christchurch, telah menyulut keprihatinan dengan rencana untuk membuka megastore di kota tersebut.

Radio New Zealand mengatakan sebagian orang, yang tinggal di dekat lokasi yang diusulkan, prihatin dengan prospek toko itu, yang direncanakan berdiri di lahan 300 meter persegi, bersama dengan gudang, kantor dan tempat parkir. Toko tersebut direncanakan dibukan pada Agustus.

"Saya kira banyak orang takkan sangat nyaman karena ada senjata di sekitar rumah mereka di daerah permukiman," kata seorang warga, Harry Singh, kepada lembaga penyiaran tersebut.

Baca juga: Bukan Gempa, Rumah Susan Gedya Ternyata Digoyang Geyser Lumpur Panas

Gun City belum menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Lokasi itu cuma satu kilometer dari tempat pacuan kuda, tempat Selandia Baru menyelenggarakan pembelian senjata pertamanya pada Sabtu, empat bulan setelah penembakan massal masa damai terburuknya. Sebanyak 51 orang tewas dan puluhan orang lagi cedera dalam penembakan di dua masjid di Christchurch.

Pria bersenjata yang menjadi tertuduh, Brenton Tarrant, membeli sempat senjata api dan amunisi antara Desember 2017 dan Maret 2018, kata pemilik Gun City David Tipple pada Maret lalu.

Baca juga: Selandia Baru Resmi Larang Senjata Api Gaya Militer Pasca Teror

Tarrant, yang dijadwalkan diadili pada Mei, telah menyatakan ia tidak bersalah atas 92 tuntutan mengenai serangan tersebut, termasuk tuntutan terorisme pertama di Selandia Baru.

Tipple mengatakan kepada Radio New Zealand bahwa ia meminta ma'af karena sebagian orang prihatin mengenai toko barunya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: