Forgot Password Register

RUU Reformasi Selandia Baru, Polisi: Ribuan Senjata Diserahkan

RUU Reformasi Selandia Baru, Polisi: Ribuan Senjata Diserahkan Senjata api dan aksesori ditampilkan di toko senjata Gun City di Christchurch, Selandia Baru. (Foto: Reuters/Jorge Silva)

Pantau.com - Polisi Selandia Baru memperkirakan ribuan senjata api semi-otomatis gaya militer akan diserahkan dalam skema membeli-kembali senjata setelah Parlemen memberlakukan mengubah undang-undang senjata usai penembakan massal pada Maret lalu.

Sebagian besar anggota Parlemen Selandia Baru secara penuh mendukung perubahan hukum senjata, pada Rabu, 9 April 2019, kurang dari sebulan teror mematikan di dua masjid di Christchurch yang menewaskan 50 orang.

Baca juga: Laporan Serangan Brutal di Christchurch Kembali Dilaporkan

Undang-undang baru membatasi sirkulasi dan penggunaan sebagian besar senjata api semi-otomatis, bagian yang mengubah senjata api menjadi senjata api semi-otomatis, peluru dengan kapasitas tertentu, dan beberapa senapan, seperti dilansir Reuters.

Pemilik senjata terlarang bisa menyerahkannya kepada polisi pada tanggal 30 September dengan imbalan kompensasi berdasarkan usia dan kondisi senjata. Saat ini, lebih dari 300 senjata semi-otomatis telah diserahkan, kata Menteri Kepolisian Stuart Nash kepada Parlemen.

Komisaris Polisi Michael Clement mengatakan dalam sebuah konferensi pers, Kamis (11/4/2019), bahwa mereka masih belum mengetahui secara pasti berapa senjata yang akan mereka terima, karena tidak ada daftar kepemilikan senjata dengan registrasi.

Baca juga: Kenapa Jacinda Ardern Begitu Disorot Pasca Penembakan di Christchurch?

Ada sekitar 1,2-1,5 juta senjata api di Selandia Baru, menurut gunpolicy.org. Dari data tersebut, pemerintah telah mengatakan bahwa catatan lisensi menunjukkan 13.500 senjata api merupakan gaya militer semi-otomatis (MSSAs), dan diperkirakan jumlahnya lebih tinggi lagi.

Clement mengatakan rincian mengenai jumlah senjata tengah dilakukan dengan skema membeli-kembali. Ia juga mendesak para pemilik senjata untuk register secara online.

Warga Australia, Brenton Tarrant (28), seorang tersangka supremasi kulit putih, didakwa dengan 50 tuduhan pembunuhan setelah serangan terhadap dua masjid pada 15 Maret.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More