Forgot Password Register

Selama 2018 Sebanyak 20.000 Pengungsi Kembali ke Tanah Suriah

Selama 2018 Sebanyak 20.000 Pengungsi Kembali ke Tanah Suriah Orang-orang berjalan menunggu untuk perjalanan ke Suriah di perbatasan penyeberangan Jaber, dekat pos pemeriksaan Nassib, Yordania. (Foto: Reuters/Muhammad Ugik)

Pantau.com - Sekitar 20.000 pengungsi meninggalkan Suriah karena perang saudara, kini kembali ke negeri mereka dari Libanon sejak awal tahun 2018 melalui pos pemeriksaan Jaydet-Yabus di Damaskus, kata Kepala Pusat Departemen Pertahanan Rusia untuk rekonsiliasi Suriah Mayjen Gen. Yevgeny Kharchenko.

"Menurut data registrasi kami, sejak awal tahun 2018, lebih dari 20.000 pengungsi Suriah telah kembali ke tempat tinggal mereka melalui pemeriksaan di Jaydet-Yabus," ucap Kharchenko.

Banyak pengungsi dari Suriah yang menghabiskan selama setahun lebih di Libanon. Salah satunya Abdullah Ahmad Aswad, yang melarikan diri ke Libanon bersama keluarganya sejak tujuh tahun yang lalu.

Baca juga: Suku Lokal di Suriah Serukan Boikot Militan PKK di Raqqa

"Itu merupakan kehidupan yang berat, saya seorang buruh dan mendapatkan sedikit bayaran. Ketika mendengar Suriah telah aman, kami memutuskan untuk kembali," ucap Aswad kepada wartawan, seperti dikutip Sputnik, Selasa (6/11/2018).

Menurut Pusat Rekonsiliasi, ada sekitar 1,5 juta pengungsi Suriah di Libanon, sekitar 380.000 meninggalkan negara setelah perang saudara dimulai. Sejak 18 Juli, lebih dari 29.000 pengungsi telah kembali ke Suriah dari Libanon dan Yordania.

Pemerintah Suriah telah mendapatkan kembali kendali atas sebagian besar wilayah negara yang sebelumnya dikuasai teroris. Pemerintah saat ini berfokus untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi pengungsi yang kembali. Moskow telah membantu Damaskus dalam proses tersebut, serta memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil dan menjadi penjamin gencatan senjata, bersama dengan Turki dan Iran.

Baca juga: ISIS Kembali Kerjai Militer AS di Suriah, Serangan Kedua Digodok

Share :
Komentar :

Terkait

Read More