Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Mengembalikan Kedaulatan Teh Indonesia: Dari Kebun Rakyat hingga Panggung Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mengembalikan Kedaulatan Teh Indonesia: Dari Kebun Rakyat hingga Panggung Global
Foto: (Sumber: Buruh memetik pucuk daun teh di perkebunan teh PTPN XII, Wonosari, Malang, Jawa Timur, Sabtu (26/4/2025). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) produksi teh Indonesia menurun dari 165.000 ton pada tahun 2002 menjadi 122.700 ton pada 2023 dengan rata-rata produktivitas teh per hektare sebanyak 1.800 kg. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz.)

Pantau - Di balik hamparan kebun teh di Nusantara, terdapat petani kecil dan buruh tani yang menjadi tulang punggung industri teh Indonesia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa mereka justru menghadapi tekanan berat dari sisi ekonomi dan sistem perdagangan yang tidak berpihak.

Sekitar 46 persen lahan teh di Indonesia dikelola oleh perkebunan rakyat, sementara 34 persen oleh BUMN dan sisanya oleh swasta. Sebagian besar petani teh hanya memiliki lahan kurang dari satu hektare, tetapi mampu menyumbang 35 persen dari total produksi teh kering nasional pada tahun 2020.

Petani Terdesak, Teh Nusantara Terancam

Para petani kecil menghadapi berbagai tantangan seperti produktivitas rendah akibat tanaman tua, keterbatasan modal, dan ketergantungan pada tengkulak yang menekan harga jual.

Banyak petani yang akhirnya meninggalkan usaha perkebunan teh karena tidak lagi menjanjikan secara ekonomi. Lahan-lahan teh rakyat pun terbengkalai atau dialihkan ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Sementara itu, konsumsi teh dunia terus meningkat, dari 6,89 juta ton pada 2022 dan diperkirakan mencapai 7,44 juta ton pada 2025. Namun, gairah petani teh Indonesia justru kian menurun.

Indonesia Merosot di Panggung Teh Dunia

Dulu, Java Tea dikenal luas di pasar Eropa dan menjadikan Hindia Belanda sebagai eksportir teh utama dunia. Kini, Indonesia hanya menempati peringkat ketujuh produsen teh global, menyumbang sekitar 2 persen dari produksi dunia.

Produksi teh nasional menurun dari 137 ribu ton pada 2021 menjadi 124 ribu ton pada 2022. Lahan perkebunan teh juga menyusut drastis dari 167 ribu hektare pada 2001 menjadi sekitar 100–110 ribu hektare.

Ekspor teh Indonesia turun dari 79 ribu ton pada 2010 menjadi hanya 45 ribu ton pada 2022, dengan nilai sekitar 89,9 juta dolar AS. Pangsa pasar ekspor global Indonesia bahkan tidak sampai 2,5 persen, jauh tertinggal dari Vietnam, Kenya, Sri Lanka, dan India yang menguasai pasar utama seperti Pakistan, Mesir, dan Inggris.

Potensi Pasar Ada, Tapi Volume Ekspor Kecil

Meskipun volume ekspor kecil, teh Indonesia masih diminati oleh negara-negara seperti Malaysia, Rusia, Amerika Serikat, China, dan Pakistan.

Malaysia mengimpor teh Indonesia sebagai bahan baku teh tarik dan untuk re-ekspor. Rusia dan AS menyukai teh hijau dan teh khas Indonesia. Namun, jumlah ekspor ke negara-negara tersebut belum signifikan.

Di dalam negeri, pasar teh curah dan kemasan murah banyak dibanjiri produk impor yang lebih murah dari teh lokal, memperburuk daya saing petani teh Nusantara.

Masalah Hilirisasi: Nilai Tambah Dinikmati Negara Lain

Indonesia masih mengekspor teh dalam bentuk mentah, seperti daun kering atau bubuk. Produk ekspor Indonesia umumnya adalah teh kelas menengah yang digunakan untuk blending, bukan produk premium bermerek.

Nilai tambah justru dinikmati negara lain, sementara petani dan industri teh dalam negeri hanya mendapat keuntungan minimal.

Perusahaan BUMN seperti PTPN VIII memang mulai mengembangkan merek teh seperti Walini, namun belum mampu bersaing secara dominan di pasar lokal maupun internasional.

Sebaliknya, pasar teh premium dalam negeri justru dikuasai produk impor seperti teh hijau Jepang, chamomile dan earl grey dari Eropa, serta milk tea dari Thailand.

Tantangan Teknologi dan Riset yang Minim

Investasi dalam riset varietas unggul dan teknologi pascapanen masih minim. Padahal, teh Indonesia diketahui memiliki kandungan katekin tinggi, yaitu antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.

Namun, proses fermentasi dan penyangraian yang tidak optimal menyebabkan aroma teh Indonesia kalah bersaing dengan produk dari India atau Sri Lanka.

Akibatnya, harga teh Indonesia di pasar global relatif rendah. Ironisnya, teh olahan impor yang dijual di supermarket dalam negeri bisa saja berasal dari daun teh Indonesia yang sebelumnya diekspor dengan harga murah.

Lima Langkah Strategis Mengembalikan Kedaulatan Teh

Untuk menjadikan teh sebagai komoditas unggulan nasional sekaligus pemain kuat di pasar dunia, diperlukan strategi menyeluruh:

Memperkuat hilirisasi melalui investasi pada industri pengolahan teh, mulai dari blending berteknologi tinggi hingga produk minuman kekinian bermerek lokal.

Melindungi pasar domestik dari impor murah dengan kebijakan perdagangan yang adil dan penerapan standar mutu nasional.

Menggelorakan kampanye “Cinta Teh Nusantara”, mengikuti jejak sukses kampanye kopi lokal, lewat festival, promosi budaya, dan wisata kebun teh.

Memberikan dukungan teknologi dan modal kepada petani dan UMKM untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan bersaing secara sehat.

Membangun identitas geografis (IG) seperti Teh Java Preanger atau Teh Sumatera sebagai produk premium dengan nilai pasar global.

Kedaulatan teh Indonesia hanya bisa dicapai jika seluruh mata rantai—dari kebun hingga cangkir—diperkuat dan diberdayakan secara adil.

Penulis :
Ahmad Yusuf