Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah di Pembukaan Perdagangan, Konflik Iran-AS Picu Ketidakpastian Pasar Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Melemah di Pembukaan Perdagangan, Konflik Iran-AS Picu Ketidakpastian Pasar Global
Foto: (Sumber : Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). IHSG ditutup turun 362,71 poin setara 4,57 persen ke level 7.577,06. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Jumat pagi dibuka melemah 11,07 poin atau 0,14 persen ke posisi 7.699,47 di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat.

Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga turun 1,61 poin atau 0,20 persen ke posisi 786,21 pada awal perdagangan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyatakan penguatan teknikal yang sempat terjadi pada perdagangan sebelumnya diperkirakan tidak akan berlangsung lama karena indeks mendekati area resistensi penting.

"Kiwoom Research perkirakan technical rebound yang terjadi kemarin tidak akan berumur panjang, secara teknikal persis di gerbang resistance kritikal 7.712-7.720. Para investor disarankan untuk masih perbesar posisi cash di penghujung pekan ini untuk antisipasi high volatility during weekend," ujar Liza Camelia Suryanata.

Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Pasar

Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memasuki hari keenam yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi energi serta ketidakpastian kebijakan moneter global.

Bank sentral Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 hingga 18 Maret 2026 untuk menentukan arah kebijakan suku bunga acuan The Fed.

"Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 40 bps sepanjang 2026, turun dari sekitar 50 bps sebelum konflik dimulai," ujar Liza.

Konflik meningkat setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel sementara jet tempur Amerika Serikat dan Israel terus menyerang sejumlah target di wilayah Iran.

Serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Ketegangan juga meningkat setelah drone Iran dilaporkan memasuki wilayah Azerbaijan yang berpotensi memperluas konflik ke negara produsen energi lainnya.

Presiden Donald Trump juga menyatakan Amerika Serikat ingin memiliki peran dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya.

Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan konflik tersebut berpotensi menguji ketahanan ekonomi global serta memicu tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi apabila berlangsung dalam waktu lama.

Harga minyak dunia juga melonjak tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent naik 4,93 persen menjadi 85,41 dolar Amerika Serikat per barel.

Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI melonjak 8,51 persen menjadi 81,01 dolar Amerika Serikat per barel.

Perlambatan Ekonomi China Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, perlambatan ekonomi China juga menjadi perhatian pelaku pasar karena negara tersebut merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.

Dalam forum Two Sessions disebutkan bahwa perlambatan ekonomi China berpotensi menekan perekonomian Indonesia.

Pada 2025 porsi ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai sekitar 24 persen dari total ekspor nasional.

Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China pada 2025 tercatat sekitar 64,82 miliar dolar Amerika Serikat.

Penurunan aktivitas industri di China berpotensi mengurangi permintaan komoditas dan bahan baku dari Indonesia.

Selain sektor perdagangan, dampak juga dapat terjadi pada sektor investasi karena China merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia dengan realisasi investasi sekitar 7,5 miliar dolar Amerika Serikat pada 2025.

Secara historis setiap perlambatan 1 persen ekonomi China dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.

Bursa Global Kompak Melemah

Pada perdagangan Kamis 5 Maret 2026 bursa saham Eropa kompak mengalami pelemahan.

  • Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,46 persen sementara indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,45 persen.
  • Indeks DAX Jerman tercatat turun 1,61 persen dan indeks CAC juga melemah 1,49 persen.
  • Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street juga mengalami pelemahan pada hari yang sama.
  • Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,61 persen ke level 47.954,74.
  • Indeks S&P 500 melemah 0,56 persen ke posisi 6.830,71.
  • Sementara itu indeks Nasdaq Composite turun 0,26 persen ke posisi 22.748,99.
  • Bursa saham regional Asia pada Jumat pagi menunjukkan pergerakan yang bervariasi.
  • Indeks Nikkei menguat 80,59 poin atau 0,15 persen menjadi 55.358,69.
  • Indeks Hang Seng naik 263,59 poin atau 1,04 persen ke posisi 25.584,93.
  • Indeks Shanghai menguat 0,33 poin atau 0,01 persen ke level 4.108,90.
  • Sementara itu indeks Strait Times melemah 17,90 poin atau 0,37 persen ke posisi 4.828,66.
Penulis :
Aditya Yohan