Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Mendiktisaintek Dorong Kampus Jadi Motor Inovasi untuk Percepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Mendiktisaintek Dorong Kampus Jadi Motor Inovasi untuk Percepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Foto: (Sumber: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam Rapat Koordinasi Nasional Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) di Jakarta, Sabtu (7/3/2026). ANTARA/HO-Kemdiktisaintek.)

Pantau - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi di Indonesia berperan aktif dalam mempercepat pembangunan ekonomi nasional melalui inovasi, riset, dan pengembangan talenta.

Ia menilai kampus memiliki posisi strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas serta penguatan ekosistem inovasi.

Brian mengatakan pembangunan nasional tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, industri, serta pemerintah daerah.

"IIndonesia saat ini berada pada fase krusial menuju negara maju", ungkapnya.

Kampus Didukung Jadi Pusat Inovasi

Brian menegaskan perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian.

Menurutnya, kampus juga harus menjadi motor penggerak solusi inovatif yang berdampak langsung bagi masyarakat serta perekonomian nasional.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga sekitar delapan persen melalui penguatan riset, inovasi, serta kewirausahaan berbasis pengetahuan.

Target tersebut dinilai sejalan dengan visi pembangunan nasional yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Target Negara Berpendapatan Tinggi

Brian menjelaskan salah satu indikator negara maju adalah pendapatan per kapita yang mencapai lebih dari 15.500 dolar Amerika Serikat.

"Definisi negara maju itu adalah banyak, tetapi yang bisa diukur adalah pendapatan per kapita kita harus 15.500 Dolar AS ke atas. Indonesia sekarang berada di angka sekitar 5.500 Dolar AS", ujarnya.

Ia juga membandingkan pendapatan per kapita sejumlah negara di Asia.

Singapura tercatat memiliki pendapatan per kapita sekitar 80.000 dolar Amerika Serikat.

Jepang dan Korea Selatan berada di kisaran 60.000 dolar Amerika Serikat.

Sementara China berada di sekitar 14.000 dolar Amerika Serikat.

Menurut Brian, Indonesia perlu melakukan lompatan besar dalam produktivitas dan inovasi untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Ia menegaskan perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi yang menghasilkan teknologi baru, model bisnis, serta inovasi industri guna meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Melalui riset dasar maupun riset terapan, kampus diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata yang mendukung pembangunan ekonomi.

"Persyaratan untuk melipatgandakan pertumbuhan ekonomi itu adalah kreativitas dan inovasi terobosan yang diiringi dengan basis sains dan teknologi", ungkapnya.

Penulis :
Gerry Eka