
Pantau - Anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir menilai dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah memiliki implikasi strategis bagi kepentingan Indonesia terutama pada sektor energi dan ekonomi nasional.
Ia menyatakan situasi geopolitik di kawasan tersebut tidak boleh dipandang sebagai isu yang jauh dari kepentingan nasional.
“Situasi geopolitik di Timur Tengah tidak boleh dipandang sebagai isu yang jauh dari kepentingan Indonesia. Dampaknya dapat langsung dirasakan pada sektor energi dan ekonomi nasional,” ujar Jalal Abdul Nasir.
Menurutnya dinamika politik yang melibatkan negara-negara di kawasan Teluk berpotensi memengaruhi ketahanan energi nasional stabilitas fiskal negara serta daya beli masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih cukup tinggi.
Konsumsi minyak nasional saat ini berada pada kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari.
Sementara itu produksi minyak domestik baru mencapai sekitar 600 ribu barel per hari.
Artinya lebih dari 60 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor baik dalam bentuk minyak mentah maupun bahan bakar minyak jadi.
Kondisi tersebut membuat Indonesia cukup sensitif terhadap gejolak harga energi global.
Jalur Selat Hormuz Jadi Faktor Penting Perdagangan Minyak Dunia
Jalal juga menyoroti pentingnya jalur perdagangan minyak internasional seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur strategis dunia.
Sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.
Apabila terjadi gangguan distribusi energi di kawasan tersebut harga minyak global hampir dipastikan akan meningkat.
Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memengaruhi kondisi fiskal Indonesia.
Dalam struktur APBN sektor energi menjadi salah satu komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan sekitar 10 dolar Amerika Serikat per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga triliunan rupiah.
DPR Dorong Penguatan Ketahanan Energi Nasional
Selain itu dinamika global juga dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan.
Perubahan sentimen global dapat mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.
Dalam kondisi tersebut koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi sangat penting agar inflasi tetap terkendali.
Kenaikan harga energi juga dapat menimbulkan efek berantai terhadap sektor lain seperti biaya logistik harga pangan tarif transportasi serta biaya produksi industri.
Jika tidak diantisipasi dengan baik tekanan energi berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif sejak dini.
Jalal menilai dinamika global tersebut juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat fondasi energi nasional.
Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan antara lain meningkatkan lifting migas nasional memperkuat cadangan energi strategis serta memperluas pengembangan energi baru terbarukan.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan subsidi energi agar semakin tepat sasaran.
Menurutnya ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan tetapi juga tata kelola yang kuat serta arah kebijakan yang berkelanjutan.
“Ketahanan energi adalah bagian dari ketahanan nasional. Dengan langkah strategis dan berbasis data, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi,” pungkas Jalal Abdul Nasir.
- Penulis :
- Gerry Eka







