Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.002 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik dan Penguatan Dolar Membayangi Pasar

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.002 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik dan Penguatan Dolar Membayangi Pasar
Foto: Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa 10/3/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore melemah sebesar 19 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp17.002 per dolar AS dibandingkan sebelumnya Rp16.983 per dolar AS.

Tekanan Eksternal Dominasi Pergerakan Rupiah

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kehati-hatian pelaku pasar global.

Penguatan dolar AS serta kenaikan harga minyak dunia turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Muhammad Amru Syifa dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange menyatakan, "Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, pergerakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah."

Ia juga mengungkapkan, "Pernyataan Presiden Donald Trump memberikan tekanan tambahan terhadap pasar. Ketidakjelasan terkait akhir konflik serta masih terbukanya potensi eskalasi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah."

Presiden AS Donald Trump menyampaikan "bahwa pihaknya akan meninggalkan Iran dalam waktu dua-tiga pekan ke depan" yang semakin menambah ketidakpastian pasar.

Data resmi AS menunjukkan 13 anggota militer AS tewas sejak konflik dimulai, memperkuat kekhawatiran terhadap eskalasi konflik antara AS dan Israel dengan Iran.

Konflik tersebut juga berdampak pada jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan global sehingga mendorong kenaikan harga energi dunia.

Faktor Domestik dan Kebijakan Moneter

Pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi AS terutama data ketenagakerjaan serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia tercatat turun menjadi 3,48 persen secara tahunan yang menunjukkan tekanan harga mulai mereda.

Penurunan inflasi tersebut dinilai menjadi faktor penopang stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Bank Indonesia turut menjaga likuiditas valuta asing melalui instrumen seperti SVBI dan SUVBI untuk menstabilkan pasar.

Namun, dalam jangka pendek dampak kebijakan domestik masih kalah dominan dibandingkan faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Kurs JISDOR Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.015 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.002 per dolar AS.

Penulis :
Arian Mesa