
Pantau - Tragedi berdarah yang dikenal sebagai Januari Hitam pada 19–20 Januari 1990 di Baku menjadi titik balik perjuangan Azerbaijan menuju kemerdekaan dan kedaulatan penuh setelah puluhan tahun berada di bawah kekuasaan Uni Soviet.
Mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev mengakui bahwa keputusan mengirim pasukan Soviet ke Baku pada Januari 1990 merupakan "kesalahan terbesar dalam hidup politik saya," ungkapnya dalam refleksi atas kebijakan represif rezim Soviet.
Pengiriman tentara yang diklaim bertujuan memulihkan ketertiban tersebut justru menyasar gerakan kemerdekaan Azerbaijan yang menguat seiring melemahnya kontrol Moskow pada akhir 1980-an.
Pasukan Soviet melakukan penyerbuan brutal ke Baku dan sejumlah wilayah lain di Azerbaijan pada malam 19 hingga 20 Januari 1990 dengan menggunakan tank dan senjata berat terhadap warga sipil.
Serangan yang kemudian dikenal sebagai Black January atau Hari Para Martir itu menewaskan 147 orang, melukai 744 warga sipil, serta menyebabkan lebih dari 800 orang ditangkap.
Korban dalam tragedi tersebut mencakup perempuan, anak-anak, lansia, hingga petugas darurat yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan.
Tragedi Januari Hitam dipandang sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan sekaligus pemicu utama menguatnya tekad rakyat Azerbaijan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Soviet setelah 70 tahun.
Gerakan anti-Soviet semakin membesar seiring klaim teritorial Armenia terhadap wilayah Azerbaijan pada akhir 1980-an yang dinilai mendapat dukungan dari kepemimpinan Soviet saat itu.
Pada 21 Januari 1990, tokoh nasional Heydar Aliyev secara terbuka mengecam kekejaman rezim Komunis Soviet dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku, seraya menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah "kejahatan terhadap rakyat Azerbaijan," ungkapnya.
Pada 1994, Parlemen Azerbaijan secara resmi menetapkan tragedi Januari Hitam sebagai agresi militer dan kejahatan terhadap rakyat Azerbaijan melalui keputusan negara.
Setiap 20 Januari, ribuan warga Azerbaijan memperingati Hari Berkabung Nasional dengan berziarah ke Lorong Para Martir di Baku untuk mengenang para korban.
Tragedi ini kemudian menjadi fondasi sejarah kebangkitan Azerbaijan sebagai negara berdaulat yang di bawah kepemimpinan Presiden Ilham Aliyev mencapai berbagai keberhasilan besar, termasuk pembebasan wilayah Karabakh.
Perjalanan Azerbaijan pun digambarkan sebagai transformasi dari luka sejarah menuju kegemilangan nasional dan kedaulatan penuh di panggung internasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan








