Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Al Jazeera Ungkap 2.842 Warga Gaza Hilang Diduga “Menguap” Akibat Senjata Bersuhu Ekstrem

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Al Jazeera Ungkap 2.842 Warga Gaza Hilang Diduga “Menguap” Akibat Senjata Bersuhu Ekstrem
Foto: Anggota pasukan Israel terlihat saat mereka memberlakukan penutupan di sekitar lingkungan Jabal Johar di selatan kota Hebron di Tepi Barat, Palestina 19/1/2026 (sumber: Anadolu)

Pantau - Investigasi khusus Al Jazeera mendokumentasikan hilangnya sekitar 2.842 warga Palestina di Jalur Gaza sejak serangan Israel dimulai pada Oktober 2023, dengan data lapangan yang mengklasifikasikan korban sebagai “menguap”.

Investigasi bertajuk The Rest of the Story itu ditayangkan pada Senin, 9 Februari 2026.

Data tersebut bersumber dari tim Pertahanan Sipil Gaza yang melakukan pendataan sejak perang pecah pada Oktober 2023.

Laporan menyebut hilangnya warga Gaza dikaitkan dengan penggunaan senjata bersuhu sangat tinggi yang mampu menguapkan jaringan tubuh manusia.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan angka 2.842 korban diklasifikasikan sebagai “menguap” berdasarkan dokumentasi lapangan, bukan perkiraan.

Basal menjelaskan klasifikasi dilakukan setelah pencarian menyeluruh dan hanya menyisakan jejak biologis seperti percikan darah atau fragmen kulit.

“Jika sebuah keluarga memberi tahu kami ada lima orang di dalam, dan kami hanya menemukan tiga jenazah utuh, maka dua sisanya baru kami klasifikasikan sebagai ‘menguap’ setelah pencarian menyeluruh tidak menemukan apa pun selain jejak biologis,” ungkap Basal.

Ia menyebut proses pencarian dilakukan di bawah reruntuhan, rumah sakit, dan kamar jenazah.

Kesaksian Keluarga Korban di Sekolah al-Tabin

Salah satu kesaksian dalam investigasi datang dari Yasmin Mahani yang kehilangan anaknya, Saad, di Sekolah al-Tabin pada 10 Agustus 2024.

“Saya masuk ke masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah,” ujar Yasmin.

Yasmin mengatakan ia tidak menemukan jejak anaknya meski sudah mencari di rumah sakit dan kamar jenazah selama berhari-hari.

“Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan. Itu yang paling berat,” katanya.

Temuan Amunisi dan Dugaan Senjata Termobarik

Investigasi mengaitkan hilangnya korban dengan penggunaan senjata termobarik dan termal yang dikenal sebagai bom vakum atau bom aerosol.

Pakar militer Rusia, Vasily Fatigarov, menyebut senjata itu menghasilkan suhu dan tekanan ekstrem melalui bola api besar.

Ia menjelaskan bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke bahan peledak untuk memperpanjang pembakaran dan menghasilkan suhu 2.500–3.000 derajat Celsius.

Investigasi juga menyoroti efek serupa dari tritonal, campuran TNT dan aluminium dalam bom buatan Amerika Serikat.

Jenis amunisi yang diidentifikasi meliputi bom MK-84, bom penghancur bunker BLU-109, dan bom presisi GBU-39.

Laporan menyebut GBU-39 digunakan dalam serangan di Sekolah al-Tabin dan dirancang agar bangunan tetap utuh, namun menghancurkan bagian dalam dengan gelombang panas dan tekanan.

Basal menyatakan timnya menemukan fragmen GBU-39 di sejumlah lokasi serangan yang tidak menyisakan jenazah.

“Senjata ini membunuh melalui gelombang tekanan yang merobek paru-paru serta gelombang panas yang membakar jaringan lunak,” kata Basal.

Investigasi menyebut bom BLU-109 digunakan dalam serangan di al-Mawasi, zona aman yang ditetapkan Israel, dan menyebabkan 22 korban diklasifikasikan “menguap”.

Laporan menjelaskan BLU-109 memiliki sumbu tunda yang menembus bangunan sebelum meledak dengan bahan PBXN-109 yang menciptakan bola api besar di ruang tertutup.

Investigasi juga menguraikan bom MK-84 “Hammer” tanpa pemandu berbobot 900 kilogram yang diisi tritonal dan disebut menghasilkan panas hingga 3.500 derajat Celsius.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir al-Bursh, menjelaskan dampak biologis paparan suhu dan tekanan ekstrem terhadap tubuh manusia.

Ia menyebut tubuh manusia terdiri dari 80 persen air dengan titik didih 100 derajat Celsius.

“Ketika tubuh terpapar energi lebih dari 3.000 derajat disertai tekanan dan oksidasi masif, cairan tubuh langsung mendidih. Jaringan menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, hal itu tak terhindarkan,” ujar al-Bursh.

Respons Hukum Internasional dan Tudingan Kejahatan Perang

Pakar hukum dalam investigasi menyatakan penggunaan senjata yang tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Pengacara Diana Buttu dari Georgetown University Qatar menyatakan situasi itu merupakan genosida global.

“Ini adalah genosida global, bukan hanya genosida Israel,” kata Buttu.

Ia menuding negara-negara seperti Amerika Serikat dan Eropa turut bertanggung jawab karena terus mengirim senjata.

“Mereka tahu senjata ini tidak membedakan antara petempur dan anak-anak, tetapi tetap mengirimkannya,” ujar Buttu.

Investigasi menyebut hukum internasional melarang penggunaan senjata yang tidak dapat membedakan antara warga sipil dan kombatan.

Laporan juga mencatat Mahkamah Internasional pada Januari 2024 memerintahkan Israel untuk mencegah tindakan genosida.

Selain itu, Mahkamah Pidana Internasional pada November 2024 mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu, menurut investigasi tersebut.

Guru besar hukum internasional Tariq Shandab menilai sistem peradilan internasional gagal dalam kasus Gaza.

“Blokade terhadap obat-obatan dan makanan itu sendiri merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Shandab.

Ia menyarankan penggunaan prinsip yurisdiksi universal di pengadilan negara lain sebagai alternatif jalur hukum jika ada kemauan politik.

Warga Gaza Pertanyakan Nasib Keluarga yang “Menguap”

Rafiq Badran, warga Gaza, mengatakan ia kehilangan empat anaknya di kamp pengungsi Bureij akibat serangan Israel.

“Empat anak saya menguap begitu saja. Saya mencarinya berkali-kali. Tidak ada satu potong pun yang tersisa. Ke mana mereka pergi?” ujar Rafiq.

Penulis :
Arian Mesa