Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Australia Imbau Warga Beralih ke Transportasi Umum di Tengah Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Australia Imbau Warga Beralih ke Transportasi Umum di Tengah Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi - Suasana di Melbourne, Victoria, Australia (sumber: ANTARA/Shutterstock)

Pantau - Pemerintah Australia mendesak warganya beralih ke transportasi umum menyusul krisis energi yang dipicu konflik bersenjata di Timur Tengah, sebagaimana disampaikan Perdana Menteri Anthony Albanese dalam pidato nasional pada Rabu, 1 April 2026.

Imbauan Pemerintah dan Langkah Darurat

Albanese memperingatkan bahwa "bulan-bulan ke depan mungkin tidak mudah," seiring tekanan terhadap pasokan energi global.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menimbun bahan bakar dengan mengatakan "jika Anda bepergian dengan kendaraan pribadi, jangan membawa bahan bakar lebih dari yang Anda butuhkan."

Menurutnya, peralihan ke transportasi publik menjadi langkah penting untuk menjaga cadangan energi nasional, dengan menegaskan "Jika Anda dapat beralih menggunakan kereta api, bus, atau trem untuk bekerja, lakukanlah. Itu akan membangun cadangan kita dan menghemat bahan bakar bagi masyarakat," ungkapnya.

Pemerintah Australia telah mulai menggunakan cadangan strategis bahan bakar serta untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade memesan cadangan darurat dari Amerika Serikat.

Selain itu, pemerintah juga mengurangi pajak bahan bakar hingga separuh guna menekan lonjakan harga di dalam negeri.

Albanese menyatakan "Kami berupaya menurunkan harga bahan bakar, memproduksi lebih banyak bahan bakar di sini, dan menjaganya tetap di dalam negeri,".

Ia menambahkan bahwa perang telah menyebabkan "kenaikan harga bensin dan solar terbesar dalam sejarah."

Lebih lanjut, ia mengatakan "Dan mendapatkan lebih banyak bahan bakar di sini, menggunakan hubungan perdagangan kita yang kuat dengan kawasan ini untuk membawa lebih banyak bensin, solar, dan pupuk ke Australia,".

Ia menegaskan bahwa "tidak ada pemerintah yang dapat menjanjikan untuk menghilangkan tekanan yang disebabkan oleh perang ini."

Albanese juga menyampaikan optimisme dengan mengatakan "Ini adalah masa-masa yang tidak pasti, tetapi saya benar-benar yakin akan hal ini: kita akan menghadapi tantangan ini dengan cara Australia, bekerja sama dan saling menjaga, seperti yang selalu kita lakukan,".

Ia menegaskan bahwa meskipun Australia "bukan peserta aktif" dalam konflik, "semua warga Australia membayar harga yang lebih tinggi karena hal itu."

Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Energi Global

Konflik di Timur Tengah meningkat sejak serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari yang menyebabkan lebih dari 1.340 korban jiwa, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, dan sejumlah negara Teluk yang memiliki aset militer Amerika Serikat.

Serangan balasan tersebut memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.

Sedikitnya 13 prajurit Amerika Serikat dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka dalam konflik tersebut.

Iran kini mempertahankan kendali efektif atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan energi ke negara-negara Asia.

Australia sendiri diketahui hanya memperoleh sekitar 2 persen energi dari kawasan Timur Tengah, dengan nilai impor mencapai 37 miliar dolar pada tahun 2024.

Penulis :
Arian Mesa