Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Hiburan

Fadli Zon Dorong Pemetaan Talenta Seni Berbasis Data sebagai Dasar Kebijakan Kebudayaan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Fadli Zon Dorong Pemetaan Talenta Seni Berbasis Data sebagai Dasar Kebijakan Kebudayaan
Foto: (Sumber: Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon (kiri) bersama Founder ESQ Group Ary Ginanjar (kanan) usai rapat pembahasan SDM kebudayaan dan manajemen talenta yang di Gedung E Kementerian Kebudayaan, Jakarta. (ANTARA/HO-Kementerian Kebudayaan))

Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong pemetaan talenta seni berbasis data sebagai dasar perumusan kebijakan pengembangan kebudayaan agar dilakukan secara menyeluruh, sistematis, objektif, dan terukur.

Fadli Zon menilai pendekatan berbasis data penting untuk menggantikan asumsi dalam pengembangan sumber daya manusia kebudayaan, khususnya dalam mengidentifikasi dan membina talenta seni.

Pemetaan talenta seni tersebut dibahas dalam rapat SDM kebudayaan dan manajemen talenta di lingkungan Kementerian Kebudayaan.

Fadli Zon menyebut pemetaan berbasis Talent DNA berpotensi dikembangkan menjadi program nasional untuk mengidentifikasi bakat terpendam siswa di seluruh Indonesia sejak dini.

"Talenta seni harus ditempatkan setara dengan bidang lain dalam pembangunan talenta nasional," ungkapnya.

Ia juga mendorong penerapan konsep STEAM dengan menambahkan unsur arts dalam pendekatan STEM agar seni memiliki posisi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.

Founder ESQ Group Ary Ginanjar menjelaskan pemetaan dilakukan melalui pengisian Talent DNA pada siswa SMA dan SMP di sejumlah sekolah untuk menggali minat, bakat, dan potensi seni sebagai dasar pembinaan lanjutan.

Pemetaan tersebut mencakup enam bidang seni, yakni seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, serta seni media, film, dan animasi.

Pendekatan Talent DNA menilai Drive Network Action yang mencerminkan motif dan kecenderungan potensi individu.

Wakil Presiden ESQ Group Dwitya Agustina memaparkan hasil pemetaan terhadap 870 siswa yang menunjukkan potensi seni tersebar relatif merata dengan keunggulan berbeda di setiap sekolah.

"Hasil ini menunjukkan pembinaan seni tidak bisa diseragamkan dan harus berbasis data," ujarnya.

Mayoritas siswa tercatat memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori sehingga pembinaan dinilai perlu menekankan praktik dan simulasi.

Fadli Zon menekankan peran guru sangat penting dalam mengenali serta memahami potensi dan Talent DNA murid, sekaligus mengakui kompetensi non-akademik.

Ia menilai banyak maestro dan pelaku budaya memiliki keahlian tinggi meski tanpa latar pendidikan formal.

Kementerian Kebudayaan berkomitmen membangun sistem manajemen talenta kebudayaan berbasis data agar hasil pemetaan dapat menjadi dasar kebijakan pembinaan kebudayaan yang lebih tepat sasaran di tingkat pusat dan daerah.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Tria Dianti