Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Pantai Menganti, 'Surga Dewata' Tersembunyi di Tanah Kebumen

Oleh Rifeni
SHARE   :

Pantai Menganti, 'Surga Dewata' Tersembunyi di Tanah Kebumen

Pantau.com - Tidak seperti kota-kota besar di Indonesia yang mudah memperkenalkan tempat wisatanya, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, ternyata mempunyai aset wisata tersembunyi, Pantai Menganti, yang bahkan digadang-gadang mengalahkan Pulau Dewata Bali.

Terletak di Kecamatan Ayah, Pantai Menganti memiliki pemandangan alam berhias batu karang besar yang siap memanjakan mata. Tepatnya di Tanjung Menganti, tersimpan tebing dengan hamparan laut di sampingnya.

Aneka karang putih dan hitam meneduhkan pandangan mata, dengan deru ombak di Januari yang terbilang cukup keras dan besar tapi tak meluluhlantakkan semangat para pengunjung untuk mendatanginya.


Pantai Menganti. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Meskipun diakui pihak pengelola bahwa kunjungan wisata terbilang menurun setengahnya dibanding tahun lalu usai Tsunami yang melanda pesisir Banten dan Lampung.

"Wah jauh sih kalau dari perayaan tahun baruan tahun lalu. Biasanya sorenya sudah rame, kalau kemarin mah masih sepi di sini," ungkap Saryanto, Petugas Lapangan Pokja Kebersihan Pantai Menganti di tengah kesibukannya menaik turunkan penumpang dengan Angkutan Gratis Pengunjung, Rabu (2/1/2018)

Tiket murah dan fasilitas menarik

Biasanya tempat wisata membedakan antara tiket masuk, parkir dan biaya angkutan, tapi tidak dengan Pantai Menganti. Berbekal dana Rp 12.500,- untuk satu orang, sudah mendapat fasilitas parkir dan angkutan penumpang wisata.

Angkutan penumpang ini disediakan untuk penumpang yang hendak menjelajah area Tanjung Menganti seluas 2,8 hektar yang jadi sudut menarik di area wisata pantai tersebut.

Cukup dengan mendatangi halte pemberangkatan, maka empat mobil bak terbuka yang sudah dimodifikasi bangkunya yang menempel di belakang siap untuk dinaiki sampai halte pengantaran. Tenang, setelah pengunjung usai, maka ia cukup mendatangi halte dan mengantri untuk menaikinya kembali.

Tanjung Menganti jadi spot utama

Spot pertama yang dijumpai di Tanjung Menganti adalah sebuah pemandangan tebing yang amat indah dan luar biasa. Di bawahnya ada tangga di mana pengunjung bisa mendatangi pantai kecil yang dinamakan Watu Mbolong, latar tempat ini cocok untuk mengabadikan momen.

Setelahnya, jalan setapak menuntun sampai Mercusuar, sebuah saung besar yang berlatar belakang laut, cocok untuk bersantai. Kemudian jalan menuju Tanjung Karang Bata, di mana karang yang sangat besar berwarna hitam yang diterjang ombak memanjakan mata. 


Mercusuar. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Terakhir Jembatan Merah, jembatan yang membelah antar tebing satu dengan yang lain, jadi spot favorit para pengunjung. Namun harus berhati-hati dengan angin yang lumayan kencang.


Jembatan Merah. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Sebenarnya ada satu spot tersembunyi, yakni Goa Menganti, yang didalamnya terdapat makam yang cukup keramat. Tapi sekilas memang tidak terlihat, harus masuk terlebih dahulu.

Air pantai yang jernih dan jajanan murah

Biru dan bening, itu lah yang dirasakan saat pertama menginjakkan kaki di air. Tapi saat pagi dan siang hari, air memang terlihat surut, dan nampak karang besar di dalamnya. Saking beningnya, hingga membuat ikan-ikan kecil dengan warna indah terlihat hilir mudik ke sana kemari.

Saat pertama tiba, yang terlihat adalah kapal-kapal nelayan yang sedang bermuara. Namun di bulan Januari hanya satu dua nelayan yang melaut, karena besarnya ombak dan cuaca yang tidak bersahabat.

Selain itu, harga makanan dan jajanannya terbilang cukup terjangkau dibanding area wisata lain yang biasanya mematok harga berkali-kali lipat. Air mineral Rp3 ribu, es jeruk Rp3 ribu, es teh Rp3 ribu dan es kelapa Rp10 ribu (lengkap dengan batok kelapanya), begitupun dengan aneka makanan.

Jalan terjal dan curam

Perlu diperhatikan, untuk pengendara roda empat diwajibkan yang benar-benar handal, karena jalan menuju area pada tingkat kemiringan hingga 75 derajat.

Ini lantaran untuk menujunya harus melewati aneka bukit yang tinggi dan berkelok, yang tak jarang membuat jantung pengendaranya berdebar-debar.

Penulis :
Rifeni