
Pantau - Setiap tahun, kolesterol tinggi tercatat menjadi penyebab 4,4 juta kematian di dunia, namun kesalahan dalam menjalani diet justru sering memperburuk kondisi kesehatan.
Menurut dokter Sermed Mezher, banyak orang yang baru didiagnosis kolesterol tinggi langsung memilih menjalani diet ekstrem, termasuk menghindari semua jenis lemak.
"Ketika tubuh memasuki keadaan semi-kelaparan, hati secara paradoks dapat meningkatkan produksi kolesterol untuk menjaga integritas membran sel dan sintesis hormon selama krisis yang dirasakan," jelasnya.
Padahal, tubuh tetap membutuhkan kolesterol dalam kadar tertentu untuk memproduksi hormon, vitamin D, serta zat penting untuk pencernaan.
Diet Ketat Turunkan Metabolisme dan Timbulkan Efek Rebound
Diet ekstrem yang terlalu ketat dapat menurunkan metabolisme basal tubuh dan menyebabkan efek rebound—kondisi saat profil lipid memburuk setelah diet dihentikan.
Alih-alih sehat, cara ini justru berisiko memperburuk kadar kolesterol jahat (LDL) dan mengganggu kestabilan tubuh.
Mezher menekankan pentingnya memilih pendekatan yang tepat dalam mengontrol kolesterol, salah satunya dengan menghindari lemak trans.
"Anda dapat mengetahui apakah lemak trans ada atau tidak dengan mencari minyak nabati terhidrogenasi atau sebagian terhidrogenasi dalam daftar bahan," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa lemak trans umum ditemukan dalam margarin, gorengan, biskuit, dan kue kering.
Lemak trans meningkatkan kolesterol jahat dan menurunkan kolesterol baik (HDL), sehingga perlu dikurangi secara signifikan dalam pola makan.
Tiga Metode Efektif untuk Menurunkan Kolesterol
Selain menghindari lemak trans, Mezher menyarankan tiga metode utama untuk membantu menurunkan kadar kolesterol.
Pertama, meningkatkan konsumsi ikan berlemak yang mengandung omega-3 dari sumber alami seperti ikan segar, bukan dari suplemen.
Omega-3 membantu meningkatkan kadar HDL serta mengontrol kadar trigliserida dalam darah.
Kedua, meningkatkan asupan serat, yang masih kurang dikonsumsi oleh 85 hingga 90 persen orang dewasa di negara maju seperti AS dan Inggris.
Target konsumsi serat harian yang disarankan adalah 30 gram per hari.
Serat bekerja dengan mengikat asam empedu yang mengandung kolesterol di dalam usus, sehingga kolesterol tersebut tidak diserap kembali oleh tubuh.
Proses ini berperan dalam menurunkan kadar LDL, yang merupakan faktor utama penyebab pengerasan arteri (atherosclerosis) dalam jangka panjang.
LDL tinggi berkaitan erat dengan risiko serangan jantung dan stroke, sehingga kontrol kolesterol melalui pola makan yang tepat menjadi krusial.
- Penulis :
- Aditya Yohan







