Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Peneliti Belanda Kagumi Bekantan di Pulau Curiak, Dorong Kolaborasi Riset Konservasi Kalimantan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Peneliti Belanda Kagumi Bekantan di Pulau Curiak, Dorong Kolaborasi Riset Konservasi Kalimantan
Foto: (Sumber: Dr Corina van Middelaar peneliti dari Wageningen University & Research (WUR) Belanda bersama keluarganya datang ke Pulau Curiak melihat konservasi bekantan yang dilakukan SBI. ANTARA/Firman.)

Pantau - Dr Corina van Middelaar, peneliti dari Wageningen University & Research (WUR) Belanda, mengunjungi Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, untuk mempelajari kehidupan bekantan di habitat aslinya.

Kunjungan ini dilakukan sebagai bagian dari ketertarikannya terhadap konservasi satwa liar, khususnya bekantan yang dikelola oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) melalui Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak.

“Sungguh menakjubkan melihat bekantan dan melihat mereka melompat dari pohon ke pohon dan terutama yang jantan yang paling kuat dan paling besar, sangat mengesankan, sungguh sangat hebat,” ujar Corina seperti diterjemahkan oleh Dr Amalia Rezeki, Founder SBI Foundation.

Jelajah Habitat Bekantan dan Konservasi Mangrove

Corina bersama Amalia Rezeki dan tim SBI menjelajahi kawasan greenbelt atau area hijau yang mendominasi Pulau Curiak.

Wilayah tersebut merupakan bagian dari situs Meratus UNESCO Global Geopark dan dikenal dengan hutan mangrove rambai (Sonneratia caseolaris) serta kicauan burung khas lahan basah.

Ia juga sempat dikejutkan oleh suara bekantan jantan alpha dari kelompok Bravo yang tengah berkumpul di Menara Pantau.

Corina mengaku takjub melihat perilaku alami bekantan dan menyadari bahwa primata endemik Kalimantan ini masuk dalam kategori Endangered Species menurut IUCN.

Ia berpesan kepada Amalia Rezeki untuk terus melanjutkan misi pelestarian bekantan yang menurutnya sangat penting bagi keanekaragaman hayati dunia.

Selain itu, Corina turut mempelajari program restorasi mangrove rambai yang dilakukan SBI bersama masyarakat sekitar, dan ikut serta menanam bibit pohon mangrove sebagai bentuk partisipasi.

Dorongan Kolaborasi Internasional

Kunjungan Corina didampingi oleh mitranya dari Indonesia, Ir Tri Satya Mastuti Widi, Ph.D., IPM., ASEAN Eng, dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tri Satya dikenal sebagai sosok yang memperkenalkan bekantan ke kalangan akademisi di Belanda melalui diskusi dan penelitian tentang konservasi primata ini di Pulau Curiak.

Amalia Rezeki menyampaikan terima kasih atas kehadiran Corina dan keluarganya di Kalimantan Selatan.

Ia berharap kunjungan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas di bidang riset dan konservasi satwa endemik Indonesia.

Dr Corina van Middelaar sendiri merupakan ahli di bidang sistem produksi hewan, peternakan berkelanjutan, analisis lingkungan, serta isu-isu seperti gas rumah kaca dan jejak air.

Wageningen University & Research (WUR), tempatnya mengabdi, adalah universitas riset terkemuka di Belanda yang dikenal luas dalam bidang ilmu hayati, pertanian, dan lingkungan, serta menempati peringkat atas dunia versi QS World University Rankings.

Penulis :
Ahmad Yusuf