
Pantau - Perum Bulog menginisiasi pelibatan organisasi kepemudaan Karang Taruna dalam Tim Penjemput Gabah guna memperkuat stok cadangan beras pemerintah (CBP) serta meningkatkan penyerapan gabah petani secara langsung di lapangan.
Inisiatif ini digagas oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, sebagai langkah strategis menghadapi musim panen awal 2026 dan menjaga kualitas gabah yang diserap oleh pemerintah.
Tim Penjemput Gabah ini dirancang untuk turun langsung ke sawah, mengawal proses panen, dan memastikan gabah yang dibeli sesuai standar mutu dan usia panen yang tepat.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Peluang bagi Pemuda Desa
Struktur tim terdiri dari unsur Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Babinsa (TNI), Bhabinkamtibmas (Polri), dan Karang Taruna di desa-desa.
Fungsi utama mereka adalah mencegah panen dini, mempercepat koordinasi dengan petani lokal, serta membangun kepercayaan agar gabah tidak jatuh ke tangan tengkulak.
Pelibatan Karang Taruna memberikan manfaat ganda, mulai dari terbukanya lapangan kerja musiman saat panen raya, tambahan penghasilan bagi pemuda desa, hingga penguatan ekonomi desa yang dapat menekan laju urbanisasi.
Ahmad Rizal Ramdhani menilai bahwa kehadiran Karang Taruna sebagai bagian dari tim ini juga menjadi upaya menggerakkan generasi muda untuk terlibat langsung dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Skema kerja sama antara Bulog dan Karang Taruna saat ini masih dalam tahap pematangan dan akan difinalisasi melalui koordinasi lintas sektor dengan pemangku kepentingan terkait.
Dukungan DPR dan Ekspansi Infrastruktur Bulog
Anggota Komisi IV DPR RI, Saadiah Uluputty, menyambut baik inisiatif ini dan menilai bahwa pelibatan organisasi kepemudaan dapat menjadi sarana pelatihan generasi muda sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari hulu.
"Pemuda itu lebih dekat dan diterima masyarakat, sehingga proses penyerapan gabah di lapangan bisa berjalan lebih kondusif," ungkapnya.
Sebagai langkah pendukung, Bulog juga akan menambah kapasitas penyimpanan dengan pembangunan gudang baru berkapasitas dua juta ton menjelang panen awal tahun 2026.
Fokus Bulog ke depan tetap diarahkan pada penyerapan gabah berkualitas dan perlindungan terhadap petani dari praktik harga yang merugikan.
- Penulis :
- Gerry Eka








