
Pantau - Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan bahwa Sekolah Rakyat merupakan model pengentasan kemiskinan terpadu dengan pendidikan sebagai pintu masuk utama. Pernyataan ini disampaikan menjelang peresmian 166 titik Sekolah Rakyat oleh Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
"Anaknya disekolahkan, orang tuanya diberdayakan. Anaknya lulus, orang tuanya naik kelas," ujar Saifullah, menegaskan pendekatan dua arah dalam program ini.
Sekolah Rakyat dirancang tidak hanya untuk menyediakan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, tetapi juga untuk memberdayakan orang tua mereka agar keluar dari siklus kemiskinan.
Pusat Integrasi Program Sosial Prioritas Nasional
Sekolah Rakyat menjadi pusat pelaksanaan berbagai program unggulan Presiden Prabowo, di antaranya:
Program Tiga Juta Rumah
Makan Bergizi Gratis (MBG)
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
Cek Kesehatan Gratis (CKG)
Bansos dan jaminan kesehatan PBI-JKN
Program pemberdayaan ekonomi keluarga
Melalui pendekatan ini, Sekolah Rakyat tidak hanya mencetak siswa berdaya saing tinggi, tetapi juga mendorong kemandirian keluarga penerima manfaat secara menyeluruh.
Menurut data Kemensos, saat ini terdapat sekitar 24 juta penduduk miskin (8,57%) dan 3,17 juta di antaranya tergolong miskin ekstrem (1,13%).
Infrastruktur dan Capaian Sekolah Rakyat
Hingga akhir 2025, telah dibangun 166 titik Sekolah Rakyat yang melayani sekitar 16.000 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat.
Program ini didukung oleh 2.400 guru dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan.
Tujuan jangka panjangnya adalah menyiapkan generasi unggul dari keluarga tidak mampu untuk menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
"Besok yang diundang itu bukan hanya siswa, tetapi juga orang tua siswa. Karena Sekolah Rakyat adalah bagian dari pengentasan kemiskinan," tegas Saifullah.
- Penulis :
- Gerry Eka








