
Pantau - Lonjakan kasus keterlibatan anak-anak dalam praktik judi online menjadi perhatian serius masyarakat dan negara pada pekan kedua Januari 2026.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menegaskan negara harus hadir melindungi anak-anak di ruang digital yang semakin rentan terhadap berbagai bentuk kejahatan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia turut menekankan pentingnya menutup akses anak terhadap konten media sosial yang mengandung unsur kekerasan dan eksploitasi.
Eksploitasi digital terhadap anak berkembang menjadi kejahatan sistemik yang mengancam masa depan fisik dan psikologis generasi muda.
Dalam kondisi tersebut, Polri menghadapi dilema karena anak kerap berada pada posisi ganda sebagai pelaku sekaligus korban.
Strategi persuasi dipilih kepolisian untuk menyingkap eksploitasi sistemik dan aktor intelektual di balik keterlibatan anak-anak.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan penanganan kasus anak harus menyentuh sisi kemanusiaan agar tidak menimbulkan trauma psikologis permanen.
"Persuasi menjadi kunci utama untuk memetakan jaringan aktor intelektual di balik layar," tegasnya.
Pendekatan koersif dan interogasi keras dinilai tidak efektif terhadap anak dan perlu ditinggalkan sepenuhnya oleh aparat penegak hukum.
Penelitian Michael Lamb pada 2025 menunjukkan tekanan kognitif justru menghambat kejujuran anak dan memicu jawaban palsu akibat rasa takut berlebihan.
"Michael Lamb (2025) menekankan bahwa kesabaran adalah instrumen utama interogasi forensik anak," ungkapnya.
Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak mengutamakan jalur diversi dengan kerangka restorative justice untuk menyelesaikan perkara di luar pengadilan.
Dalam konteks ini, polisi diposisikan sebagai perancang perdamaian antara pelaku, korban, dan masyarakat.
Laporan Komisi Kepolisian Nasional tahun 2025 mencatat angka kegagalan diversi masih tinggi akibat ego sektoral dan lemahnya kompetensi negosiasi interpersonal aparat.
Pendekatan tactical empathy yang diperkenalkan Chris Voss dinilai relevan untuk membantu aparat memahami pemicu perilaku menyimpang anak.
"Empati taktis menurunkan dinding pertahanan emosional anak," demikian ditekankan dalam pendekatan tersebut.
Ruang pemeriksaan anak diharapkan dapat bertransformasi menjadi ruang pemulihan bagi jiwa anak yang terluka melalui komunikasi empatik dan dialog yang aman.
- Penulis :
- Aditya Yohan







