
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menjalin kerja sama dengan University of Technology Sydney (UTS), Australia, melalui program pascasarjana berbasis riset atau Degree by Research (DBR) untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia periset Indonesia.
Penandatanganan kerja sama dilakukan pada Senin, 19 Januari 2026 di Jakarta.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa program ini merupakan langkah konkret dan bentuk komitmen bersama antara BRIN dan UTS dalam peningkatan kualitas dan kuantitas SDM periset.
"Kerja sama ini adalah langkah konkret dan komitmen bersama BRIN dan UTS untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas SDM, khususnya setelah penandatanganan MoU pada Juli 2024 di Sydney," ungkapnya.
Fokus pada Riset Interdisipliner dan Akses Global
Skema DBR disebut sebagai instrumen penting untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional.
Arif menekankan bahwa peningkatan kualitas periset adalah fondasi dari penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang berdampak langsung pada pembangunan nasional.
Kolaborasi BRIN dan UTS telah berlangsung sejak 2023, mencakup bidang strategis seperti tata kelola, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, serta pengembangan platform digital berbasis AI dan IoT untuk sektor pangan laut biru.
Pada tahun 2024, ruang lingkup kerja sama diperluas ke bidang biodiversitas laut, bioteknologi kesehatan, keamanan pangan dan hasil laut, serta riset perubahan iklim.
BRIN juga menyediakan skema lain untuk penguatan kapasitas, seperti program post-doctoral, visiting researcher, dan kunjungan riset bersama.
Program ini terbuka tidak hanya bagi periset BRIN, tetapi juga untuk mitra industri dan akademisi.
"Program DBR ini diharapkan mampu mempertemukan kekuatan dan sumber daya dua institusi unggulan, sehingga dapat melahirkan periset dan pakar yang semakin andal, adaptif, dan berdaya saing global," ujar Arif.
Skema Jarak Jauh dan Akses Fasilitas Riset Bersama
Dalam perjanjian kerja sama, BRIN dan UTS sepakat menyelenggarakan program PhD berbasis riset dengan skema remote mode.
Skema ini memungkinkan peserta tetap menjalankan aktivitas riset di Indonesia, sambil tetap terhubung secara akademik dengan UTS melalui sistem pembimbingan, supervisi, dan evaluasi yang sesuai standar Australia.
Peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan kunjungan riset ke UTS hingga enam bulan setiap tahun, sesuai kebutuhan akademik dan riset masing-masing.
Ruang lingkup kerja sama meliputi seleksi dan pembimbingan bersama kandidat, pengembangan topik riset interdisipliner, pemanfaatan fasilitas riset, serta pelaksanaan riset yang selaras dengan Program Prioritas Nasional Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







