
Pantau - Solikin M. Juhro, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebagai Calon Deputi Gubernur BI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 23 Januari 2026.
Dalam uji kelayakan tersebut, Solikin memaparkan delapan strategi utama bertajuk "Semangka" sebagai rancang bangun kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Delapan strategi semangka ini dirancang sebagai satu paket kebijakan yang terorkestrasi untuk sekaligus menopang program Asta Cita pemerintah," ungkapnya.
Strategi "Semangka" untuk Keseimbangan Stabilitas dan Inklusi
Solikin merinci delapan strategi tersebut yang meliputi: Stabilitas makroekonomi dan keuangan, Ekonomi syariah dan pesantren, Makroprudensial inovatif, Akselerasi reformasi struktural, Navigasi stabilitas harga pangan, Gerak UMKM dan ekonomi kreatif, Keandalan digitalisasi sistem pembayaran, dan Aksi bersama, sinergi, dan kolaborasi.
Pada strategi stabilitas makroekonomi dan keuangan, ia menekankan pentingnya stabilitas sebagai jangkar ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, stabilitas yang dibutuhkan adalah stabilitas yang dinamis dan antisipatif, bukan kaku dan reaktif.
Ia menyebut bahwa keterkaitan antara sektor riil, keuangan, dan pasar keuangan harus diperkuat agar transmisi kebijakan lebih efektif dan risiko sistemik dapat diantisipasi lebih awal.
Terkait strategi ekonomi syariah dan pesantren, Solikin menilai ekonomi pesantren sebagai modal sosial penting bagi produktivitas pembangunan ekonomi nasional.
BI, lanjutnya, akan memperkuat ekosistem usaha pesantren melalui pembiayaan syariah, akses pasar, teknologi, dan pendampingan.
Pada strategi makroprudensial inovatif, Solikin menggarisbawahi pentingnya intermediasi pembiayaan yang optimal, seimbang, dan inklusif, mengingat ruang kebijakan bank sentral yang terbatas.
Ia memperkenalkan program baru bertajuk Pinisi atau percepatan intermediasi perbankan untuk mendukung strategi tersebut.
Komitmen Menjalankan Amanah dan Proses Seleksi Selanjutnya
Strategi akselerasi reformasi struktural dipandang sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi tinggi dan jalan menuju negara berpendapatan tinggi.
Sementara itu, dalam strategi navigasi stabilitas harga pangan, Solikin menargetkan tercapainya ketahanan dan kesejahteraan pangan sebagai bagian dari makroekonomi inklusif.
Pada strategi gerak UMKM dan ekonomi kreatif, ia menyebut UMKM sebagai mesin pertumbuhan inklusif dan sumber pertumbuhan baru.
BI akan mendorong digitalisasi end-to-end UMKM, termasuk penguatan kelembagaan, produktivitas, perluasan pasar, dan efisiensi sistem pembayaran.
Dalam strategi keandalan digitalisasi sistem pembayaran, ia menilai sistem ini sebagai instrumen strategis perluasan transaksi dan kedaulatan ekonomi digital.
Untuk strategi terakhir, aksi bersama, sinergi, dan kolaborasi, Solikin mendorong koordinasi kuat antarinstansi guna mendorong transformasi struktural ekonomi nasional.
"Apabila Dewan yang terhormat berkenan memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengembangkan amanah sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Insyaallah saya akan melaksanakan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan dedikasi," tegasnya.
Saat ini, Solikin menjabat sebagai Asisten Gubernur - Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Ia menjadi kandidat pertama yang diuji untuk menggantikan Juda Agung, yang mengundurkan diri dari jabatan Deputi Gubernur BI pada 13 Januari 2026.
Uji kelayakan akan dilanjutkan pada Senin, 26 Januari 2026, dengan dua kandidat lain, yaitu Dicky Kartikoyono (Asisten Gubernur - Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI) dan Thomas Djiwandono (Wakil Menteri Keuangan).
Komisi XI DPR RI dijadwalkan menggelar rapat internal pada hari yang sama untuk memilih Deputi Gubernur BI terpilih melalui musyawarah mufakat.
Hasil rapat akan diserahkan kepada pimpinan DPR RI untuk disetujui dalam Rapat Paripurna pada Selasa, 27 Januari 2026.
- Penulis :
- Arian Mesa








