
Pantau - Universitas Borobudur mengirimkan sebanyak 13 relawan untuk membantu percepatan pemulihan dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Relawan yang diberangkatkan terdiri atas tiga dosen dan 10 mahasiswa dari berbagai fakultas guna membantu masyarakat terdampak agar dapat segera bangkit dan pulih dari bencana.
Perwakilan relawan Universitas Borobudur Asep Paturohman menyampaikan, "Universitas Borobudur mengirimkan tiga orang dosen dan 10 mahasiswa untuk membantu masyarakat Sumbar yang terdampak bencana agar mereka cepat bangkit dan pulih," ungkapnya.
Belasan relawan dari perguruan tinggi swasta di Jakarta tersebut dijadwalkan menjalankan misi kemanusiaan selama 10 hari ke depan di sejumlah wilayah terdampak.
Kegiatan relawan meliputi pemulihan mental atau trauma healing bagi anak-anak dan orang dewasa yang terdampak bencana.
Relawan juga melakukan pembersihan lingkungan, termasuk drainase dan fasilitas umum yang masih dipenuhi sisa material banjir bandang.
Selain itu, relawan Universitas Borobudur memberikan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat terdampak sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana.
Universitas Borobudur turut mengerahkan mahasiswa Fakultas Teknik untuk melakukan pendataan dampak kerusakan rumah warga dan fasilitas publik akibat bencana.
Kepala Program Studi Keperawatan Universitas Borobudur menyampaikan, "Jadi, mahasiswa Fakultas Teknik bisa melihat langsung dampak kerusakan yang terjadi, dan mengetahui kajian apa yang bisa mereka lakukan setelah ini," ujarnya.
Data dan kajian tersebut akan dijadikan bahan masukan bagi pemerintah dalam mengambil keputusan terkait penanganan dan pemulihan wilayah terdampak.
Relawan Universitas Borobudur direncanakan membantu penyintas banjir di Malalak selama dua hari sebelum berpindah ke lokasi lain yang juga terdampak bencana.
Berdasarkan asesmen awal tim relawan, kondisi perekonomian masyarakat di Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, mulai bergerak meski kebutuhan hunian sementara dan ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan utama yang perlu segera dicarikan solusi oleh para pemangku kepentingan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








