
Pantau - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kewaspadaan nasional terhadap dinamika global dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 2 Februari 2026.
Forum Strategis Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah
Rakornas 2026 dihadiri oleh jajaran pemerintah pusat dan daerah, pimpinan DPRD, TNI, Polri, Kejaksaan, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Forum ini bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pelaksanaan program prioritas Presiden menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa sejak awal kemerdekaan, Indonesia dan dunia telah berada dalam pusaran konflik ideologis dan geopolitik.
Ia menyinggung sejarah pembagian dunia dalam blok-blok besar, seperti blok komunis, blok antikomunis, blok demokrasi, dan blok kapitalis.
Ancaman Geopolitik Global dan Komitmen Netralitas Indonesia
Presiden Prabowo menyoroti dampak luas dari konflik global seperti perang di Ukraina dan krisis kemanusiaan di Gaza terhadap stabilitas ekonomi, keamanan, dan ketahanan nasional Indonesia.
Seluruh jajaran pemerintahan diminta untuk memahami secara menyeluruh tantangan global yang dihadapi bangsa.
"Jadi saudara-saudara, ini yang saya ingin sampaikan ke seluruh barisan pemerintahan. Marilah kita waspada, marilah kita mengerti tantangan-tantangan yang ada di dunia ini," ungkapnya.
Ia juga membagikan pengamatan dari forum-forum internasional yang baru saja diikutinya di Eropa, termasuk World Economic Forum di Davos, Swiss.
Menurutnya, para pemimpin dunia menunjukkan kekhawatiran terhadap potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga.
"Hampir semua pemimpin dunia merisaukan kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga," ia mengungkapkan.
Dalam konteks tersebut, Prabowo kembali menegaskan komitmen Indonesia terhadap politik luar negeri bebas aktif dan prinsip nonblok.
Indonesia tidak akan bergabung dengan pakta militer mana pun dan akan terus menjalin persahabatan dengan seluruh bangsa di dunia.
"Filosofi luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak," tegasnya.
- Penulis :
- Arian Mesa








