
Pantau - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong inklusivitas melalui aktivasi kreatif di ruang publik menjelang perayaan Imlek.
Irene menyampaikan bahwa tradisi kreativitas modern harus menghadirkan pengalaman bersama yang menggerakkan ekosistem kreatif dan partisipasi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Irene dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (10/2).
Salah satu aktivasi kreatif yang akan dihadirkan adalah instalasi film dari Visinema berjudul Na Willa, yang mengangkat cerita keluarga keturunan Tionghoa.
Instalasi ini akan digelar di Lapangan Banteng sebagai lokasi perayaan Imlek Nusantara, serta di berbagai lokasi publik seperti bandara, stasiun, dan area Kids Corner.
Irene mengungkapkan bahwa karya kreatif seperti film dapat menjadi medium yang kuat untuk mendorong literasi dan menjadi ruang belajar inklusif bagi anak-anak dan keluarga.
Film "Na Willa" Angkat Cerita Multikultural Anak Indonesia
Na Willa bercerita tentang seorang anak perempuan berusia enam tahun yang memiliki mimpi besar dan tumbuh di Surabaya pada era 1960-an.
Dalam film ini, Na Willa dan teman-temannya menjalani petualangan di Gang Krembangan, menikmati hidup dari sudut pandang anak-anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu.
Cerita ini menggambarkan dinamika keluarga multikultural, di mana sang ayah berasal dari keturunan Tionghoa dan sang ibu dari NTT.
Perspektif anak dalam film ini diyakini mampu memperkuat literasi dan menciptakan ruang kreatif yang membuka sinergi antar pelaku ekosistem kreatif serta pemanfaatan ruang publik secara edukatif.
Film ini juga akan melakukan roadshow ke sejumlah kota menggunakan bus bertema "Kamar Na Willa".
Selain itu, akan diluncurkan pula perpustakaan berjalan bernama "Kelana Aksara", serta aktivasi kreatif di transportasi publik dan taman kota.
Na Willa diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo dan membawa misi penguatan nilai emosional keluarga melalui pengalaman membaca dan menulis.
Chief Content Officer Visinema Studios sekaligus produser Na Willa, Anggia Kharisma, mengatakan bahwa karakter dalam film ini bisa menjadi sosok teman bagi anak dan keluarga Indonesia.
"Film Na Willa bisa dijadikan ruang diskusi, terutama ruang-ruang internal dalam keluarga yang lebih menarik sehingga memantik orang tua untuk mengajak anak-anak lebih sering membaca dan menikmati apa yang menjadi tulisan dari mereka. Kami percaya cerita anak-anak sama pentingnya dengan kisah orang dewasa,” ungkapnya.
Komitmen Berkelanjutan Terhadap Ekosistem Perfilman
Film Na Willa diharapkan mampu merayakan identitas anak-anak melalui aktivasi kolaboratif, baik dalam bentuk konten digital maupun fisik menjelang perayaan Imlek Nasional dan menyambut Lebaran 2026.
Sebelumnya, Kementerian Ekonomi Kreatif juga memberikan dukungan terhadap film Jumbo sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem perfilman nasional.
- Penulis :
- Arian Mesa








