Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Tanah Bergerak, Sinkhole, dan Creeping Jadi Alarm Kerusakan Biologis Tanah Akibat Eksploitasi Air dan Deforestasi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Tanah Bergerak, Sinkhole, dan Creeping Jadi Alarm Kerusakan Biologis Tanah Akibat Eksploitasi Air dan Deforestasi
Foto: (Sumber: Tim relawan BPBD mengangkat lemari milik warga dari rumah yang hancur akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). Menurut BPBD Kabupaten Tegal sebanyak 853 rumah, 21 fasilitas umum dan tujuh tempat ibadah rusak berat dan sedang sehingga Desa Padasari dikategorikan sebagai zona merah dan sudah tidak layak untuk menjadi lokasi permukiman warga. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/agr.)

Pantau - Meningkatnya kejadian tanah bergerak, amblesan tanah mendadak atau sinkhole, serta pergerakan tanah lambat atau creeping di berbagai daerah dinilai sebagai alarm kerusakan serius pada struktur biologis tanah akibat campur tangan manusia.

Dalam artikel telaah yang ditulis Misbakhul Munir, SSi MKes, fenomena tersebut tidak hanya dipandang sebagai risiko geologi, tetapi juga indikator terganggunya keseimbangan antara air, organisme tanah, dan vegetasi penopang stabilitas lahan.

Dua faktor utama yang disorot adalah eksploitasi air tanah berlebihan serta hilangnya vegetasi akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.

Penulis menjelaskan tanah bukan material mati, melainkan ekosistem hidup yang terdiri atas mikroorganisme, fauna tanah, akar tumbuhan, bahan organik, dan mineral yang membentuk agregat struktural.

Mikroba dan jamur tanah berperan sebagai perekat alami partikel tanah, sedangkan akar tanaman memperkuat struktur secara mekanis dan membantu penyerapan serta penyimpanan air.

Tanpa vegetasi kuat dan bahan organik memadai, struktur tanah menjadi rapuh sehingga air hujan tidak terserap optimal, erosi meningkat, dan tanah mudah bergeser atau ambles ketika mendapat tekanan tambahan akibat aktivitas manusia.

Indonesia khususnya Pulau Jawa mengalami tekanan besar terhadap sumber daya air tanah akibat urbanisasi dan meningkatnya kebutuhan domestik, industri, serta pertanian.

Ekstraksi air tanah yang melebihi kemampuan alami akuifer mengisi ulang menyebabkan penurunan muka air tanah dan amblesan permukaan.

Penelitian di Bandung Basin menunjukkan penurunan muka air tanah menjadi faktor utama amblesnya permukaan dengan laju beberapa sentimeter per tahun.

Di Jakarta dan sekitarnya, pengambilan air tanah berkorelasi dengan penurunan permukaan tanah sebesar 2 hingga 15 sentimeter per tahun dengan faktor manusia lebih dominan dibanding faktor alami.

Penurunan muka air tanah mengurangi tekanan hidrostatik yang menopang struktur bawah permukaan sehingga rongga menjadi rapuh dan dapat runtuh membentuk sinkhole tanpa tanda peringatan panjang.

Perubahan kelembapan tanah akibat pengambilan air tanah drastis juga menurunkan kohesi partikel sehingga tanah kehilangan elastisitas dan rentan mengalami creeping yang kerap tidak terdeteksi hingga merusak infrastruktur.

Deforestasi dan alih fungsi lahan memperparah ketidakstabilan karena hilangnya akar tanaman dan menurunnya populasi mikroba tanah yang menjaga kohesi struktural.

Alih fungsi lahan intensif seperti pertanian monokultur dan permukiman urban mengubah sifat fisik dan kimia tanah sehingga kapasitas menyerap air dan mempertahankan kohesi berkurang.

Kombinasi deforestasi dan eksploitasi air tanah mempercepat proses creeping dan amblesan yang sering baru terlihat setelah kerusakan meluas.

Penulis menilai fenomena tersebut merupakan isu kebijakan publik yang memerlukan pendekatan terintegrasi berbasis data ilmiah.

Pemerintah didorong merumuskan regulasi tegas terkait pemanfaatan air tanah termasuk pengaturan jumlah, lokasi, dan kedalaman sumur bor serta mekanisme izin dan sanksi.

Pengembangan infrastruktur air permukaan, rehabilitasi vegetasi, reboisasi, dan konservasi bahan organik tanah dipandang penting untuk memulihkan fungsi biologis dan menjaga tekanan hidrostatik.

Implementasi sistem pemantauan modern seperti satelit radar InSAR dan sensor tanah juga diperlukan untuk deteksi dini pergerakan lahan.

Kerusakan stabilitas tanah dinilai berdampak langsung pada keselamatan masyarakat, ekonomi lokal, dan keberlanjutan lingkungan karena merusak infrastruktur, lahan pertanian, dan permukiman.

Artikel tersebut menegaskan bahwa tanah bergerak, sinkhole, dan creeping merupakan masalah kompleks yang mencakup biologi, hidrologi, dan aktivitas manusia sehingga memerlukan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dan keberlanjutan.

Penulis menyatakan, “Tanah yang bergerak adalah suara alam yang memanggil kita untuk bertindak. Dan pemerintah harus menjawab panggilan itu melalui kebijakan yang tegas, berbasis ilmu pengetahuan, serta berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan keselamatan publik. Wallahu ‘alam bishowab.”.

Penulis :
Aditya Yohan