
Pantau - Tempah dedoro merupakan inovasi pengolahan sampah organik berbasis lingkungan yang dikembangkan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebagai solusi untuk menekan volume sampah dari tingkat rumah tangga.
Dalam bahasa Sasak, tempah berarti tempat dan dedoro berarti sampah yang mencerminkan fungsi utama inovasi tersebut.
Tempah dedoro berbentuk lubang tertutup rapi yang dilengkapi penutup kecil di bagian atas untuk memasukkan sampah organik rumah tangga.
Warga memasukkan sisa dapur seperti sayur dan nasi basi ke dalam lubang tersebut agar terurai secara alami di dalam tanah.
Selain berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah organik, bagian atas tempah dedoro didesain menyerupai meja bundar yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang interaksi sosial warga.
Kota Mataram sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalami pertumbuhan pesat di sektor jasa, perdagangan, pendidikan, dan hunian yang berdampak pada peningkatan volume sampah.
Volume sampah Kota Mataram saat ini mencapai sekitar 250 ton per hari dan sebagian besar dibuang ke TPA Kebon Kongok di Kabupaten Lombok Barat.
Permasalahan yang dihadapi meliputi keterbatasan lahan, tekanan lingkungan, serta biaya pengelolaan sampah yang terus meningkat.
Pemerintah Kota Mataram memperkenalkan tempah dedoro sebagai solusi mandiri dan relatif murah untuk mengurangi beban sampah sejak dari sumbernya yaitu rumah tangga.
Inovasi ini melibatkan partisipasi aktif warga dalam pengelolaan sampah organik di lingkungan masing-masing.
Tempah dedoro menekankan bahwa kebersihan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah melainkan hasil gotong royong masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







