
Pantau - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan pupuk urea nasional tetap aman meskipun konflik di Selat Hormuz mengganggu jalur perdagangan global dan memicu kenaikan harga pupuk dunia.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyampaikan bahwa dampak konflik lebih terasa pada jalur energi dan distribusi global, namun tidak mengganggu ketersediaan pupuk di dalam negeri.
"Insya Allah untuk Indonesia aman karena ureanya diproduksi dalam negeri. Bahkan hari ini Indonesia bisa menjadi stabilisator atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia," ungkapnya.
Dampak Global Konflik Selat Hormuz
Sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia atau sekitar 4 juta ton per bulan melintasi Selat Hormuz yang kini terdampak konflik.
Dari total volume tersebut, sekitar 1,5 juta ton merupakan urea, 1,5 juta ton sulfur, serta sekitar 1 juta ton pupuk lain termasuk metanol.
Kondisi ini turut mendorong lonjakan harga urea global dari sekitar 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton atau meningkat dua kali lipat akibat dinamika geopolitik.
Meski demikian, Indonesia tidak terdampak signifikan karena sebagian besar kebutuhan urea dipenuhi dari produksi domestik.
Produksi Nasional dan Jaminan Pasokan
Pupuk Indonesia mencatat kapasitas produksi urea nasional mencapai 8,8 juta ton secara operasional dari total kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton.
Dengan kapasitas tersebut, kebutuhan pupuk urea dalam negeri, baik subsidi maupun nonsubsidi, dipastikan tetap tercukupi.
"Kembali lagi kami tegaskan khusus mengenai pupuk kita tidak terjadi gangguan khususnya kecukupan pupuk urea yang memang terganggu (di Selat) Hormuz," ujarnya.
Untuk jenis pupuk lain, potensi gangguan lebih disebabkan oleh faktor pengiriman atau freight, bukan produksi.
"Kemungkinan yang lain-lain paling kalaupun terpengaruh karena faktor freight, tetapi kami baru saja pulang dari konferensi pupuk (di Bali) dan hadir banyak sekali supplier-supplier fosfat dan potas, semuanya meyakinkan tidak terjadi gangguan produksi di daerah-daerahnya," jelasnya.
Selain itu, harga eceran tertinggi pupuk urea di dalam negeri telah turun sebesar 20 persen dan tidak ada rencana kenaikan kembali.
- Penulis :
- Arian Mesa









