
Pantau - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyatakan kesiapan kementeriannya untuk berkolaborasi dengan BPJS Kesehatan dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial guna meningkatkan kualitas layanan publik berbasis data.
Kolaborasi ini muncul sebagai respons atas kebutuhan pengolahan data dalam skala besar di BPJS Kesehatan yang tidak lagi dapat mengandalkan metode konvensional.
Nezar menegaskan bahwa pengelolaan data yang besar dan bergerak cepat membutuhkan teknologi AI agar layanan publik dapat berjalan lebih efektif.
"Pengelolaan data dalam skala besar tidak bisa lagi manual. Datanya besar dan bergerak cepat. AI menjadi kebutuhan agar layanan publik bisa lebih cepat dan tepat," ungkapnya.
Penguatan Talenta dan Ekosistem AI
Kementerian Komunikasi dan Digital telah menyiapkan ekosistem pengembangan talenta melalui program AI Talent Factory.
Program tersebut merupakan pelatihan bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi unggulan untuk memahami pemanfaatan AI melalui studi kasus nyata.
Program ini juga melibatkan pendampingan langsung dari para ahli industri global.
Sejumlah perguruan tinggi yang terlibat antara lain Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia.
Program ini turut didukung perusahaan teknologi global dan universitas internasional seperti Google, Apple, Amazon, MIT, dan Oxford.
"Kami kerja sama dengan Google, Apple, Amazon, juga MIT dan Oxford. Jadi talenta yang dihasilkan siap masuk ke kebutuhan riil di lapangan," ia mengungkapkan.
Nezar menyebut kolaborasi dengan BPJS Kesehatan dapat segera direalisasikan dengan menggabungkan data, use case, serta talenta yang telah tersedia.
"Kalau BPJS Kesehatan punya use case dan data, kami punya talenta dan ekosistem. Ini bisa langsung kita kerjakan bersama. Tujuannya jelas, layanan ke masyarakat harus lebih cepat, lebih akurat," ujarnya.
Tantangan dan Pengembangan AI di BPJS Kesehatan
Di sisi lain, BPJS Kesehatan telah mulai merintis penggunaan AI untuk meningkatkan digitalisasi layanan publik.
Pemanfaatan teknologi tersebut diarahkan untuk mempermudah akses layanan hanya melalui sentuhan jari.
Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Setiaji menyebut pengembangan AI masih menghadapi keterbatasan kapasitas.
"Kami sudah mulai bangun chatbot, analisis klaim, dan smart analytics. Tapi memang masih ada gap, terutama dalam pengembangan model dan pemanfaatan data," ungkapnya.
Setiaji menjelaskan sistem yang ada saat ini belum mampu memahami kebutuhan pengguna secara menyeluruh.
"Chatbot kami masih sebatas pengganti FAQ. Untuk klaim juga belum bisa membaca banyak variabel. Ini yang ingin kami tingkatkan agar layanan bisa lebih cepat dan akurat," ia mengungkapkan.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah menargetkan layanan BPJS Kesehatan menjadi lebih responsif.
Proses klaim diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dan akurat.
Pemanfaatan data kesehatan juga ditargetkan lebih optimal guna mendukung kebijakan berbasis bukti.
Kolaborasi ini diharapkan mendorong peningkatan kapasitas internal melalui transfer pengetahuan dan pengembangan talenta di dalam organisasi.
- Penulis :
- Arian Mesa








