Pantau Flash
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil

Akibat COVID-19, Gelombang PHK Massal Diprediksi Terjadi Juni

Akibat COVID-19, Gelombang PHK Massal Diprediksi Terjadi Juni Ilustrasi PHK. (Foto: Antara)

Pantau.com - Ekonom dari Institute for Development, Economic and Finance (INDEF), Andry Satrio Nugroho, memperkirakan gelombang PHK bakal mencapai puncaknya pada Juni mendatang. Apabila tak segera ditangani, pekerja di sektor pariwisata dan jasa yang paling terdampak.

Sementara itu, pemerintah akan memprioritaskan mereka yang di-PHK bersama dengan pekerja informal dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang terdampak COVID-19, sebagai penerima program Kartu Prakerja.

Baca juga: 2.311 Pekerja Kena PHK Akibat Korona! Solusinya Kartu Pra-Kerja

Melihat data Kementerian Tenaga Kerja per 4 April 2020, total pekerja yang dirumahkan maupun terkena PHK telah mencapai 130.456 pekerja. "Kalau misalnya tetap pada kondisi seperti saat ini di mana industri masih enggan untuk melakukan proses produksi, saya rasa di akhir kuartal kedua, gelombang terbesarnya akan kita rasakan," ujar Andry.

"Yang saya takutkan sebenarnya bukan hanya di gelombang PHK-nya saja, tapi bagaimana sektor informal yang akan terdampak lebih besar dan mungkin bisa jadi Kartu Prakerja tidak hanya disasar oleh dari gelombang PHK dari sektor formal saja, tapi juga dari sektor informal," tambahnya.

Baca juga: PSBB Resmi Dijalankan di Jakarta, Roda Ekonomi Bagaimana?

Sementara itu, pakar tenaga kerja dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Sukamdi, meragukan program Kartu Prakerja. Ia menilai langkah itu tak tepat sasaran.

"Setiap kali ada program seperti ini selalu muncul moral hazard. Yang saya maksud moral hazard adalah ketika ada bantuan yang sifatnya cuma-cuma, diberi, charity, maka akan ada kecenderungan orang yang memanfaatkan itu, yang sebetulnya bukan bagian dari target program tapi menginginkan itu karena merasa itu bantuan, 'saya berhak dibantu dong'," tukasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: