Pantau Flash
Shin Tae-yong Keukeuh Angkut Timnas TC ke Korsel daripada Eropa
Erick Thohir: Pemerintah Berupaya Tingkatkan Produksi Vaksin COVID-19
Biaya Suntik Vaksin COVID-19 Akan Ditanggung Pemerintah
Kemendikbud Terbitkan Kepmen 719/P/2020 Tentang Kurikulum Darurat
Dishub DKI Sebut Ganjil Genap Bisa Berlaku Seharian Tanpa Skema Waktu

Data: Suku Bunga Diturunkan tapi Nggak Berdampak Signifikan

Headline
Data: Suku Bunga Diturunkan tapi Nggak Berdampak Signifikan Ilustrasi. (Foto: Getty Images)

Pantau.com - Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) terus melakukan langkah-langkah guna menggerakkan roda perekonomian yang terpuruk akibat pandemi COVID-19. Salah satunya adalah dengan menurunkan suku bunga acuan.

Kekinian, BI menurunkan suku bunga acuan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (7DRR), sebesar 25 basis poin menjadi 4%, pada 15 -16 Juli 2020 lalu. Padahal, belum genap sebulan BI menurunkan suku bunga menjadi 4,25 persen.

Hal ini dilakukan untuk merangsang peningkatan konsumsi masyarakat yang lesu akibat COVID-19. Dengan kian menurunnya suku bunga kredit, pinjaman, KPR, Kredit Kendaraan Bermotor dan kredit lainnya, masyarakat diharapkan makin terdorong untuk mengambil kredit, lantaran bunga yang lebih murah.

Baca juga: IHSG Naik jika Dow Jones Naik, Mitos atau Fakta?

Selain mendorong pertumbuhan kredit, pemangkasan suku bunga BI akan mengakibatkan penurunan minat masyarakat untuk menyimpan uang di deposito. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan perputaran uang di masyarakat. Jika ditarik mundur, BI telah memangkas 7DRR sebanyak 150 bps dari April 2019 hingga April 2020. Namun apakah cara ini bisa secara efektif mendorong pertumbuhan kredit?

Pantau.com menukil hasil riset yang dibuat Lifepal, dimana menunjukkan, dampak pemangkasan tingkat suku bunga baru terlihat secara signifikan dalam jangka waktu di atas tiga tahun untuk penyaluran dana di bank umum konvensional. Penyaluran dana yang dimaksud berupa kredit yang diberikan ke pihak ketiga dan bank lain.

Namun uniknya, jumlah simpanan berjangka (deposito) yang ada di bank konvensional juga tetap mengalami pertumbuhan, bukan penurunan.

Pemerintah berkali-kali mengubah suku bunga acuan dalam 4 tahun


Terhitung sejak 2016, Bank Indonesia berkali-kali menurunkan suku bunga dari yang awalnya 7,50% hingga mencapai titik terendahnya di 4,25% pada Oktober 2017 hingga Mei 2018.

Suku bunga pun kembali dinaikkan pada Juni 2018 mulai dari Juni 2018 sebanyak 25 basis poin jadi 4,50%. Hampir setiap bulannya, suku bunga pun terus dinaikkan hingga mencapai 6,00 persen di Desember 2018.

Suku bunga acuan yang sebesar 6,00 persen terus dipertahankan hingga Juli 2019, sebelum akhirnya diturunkan kembali secara perlahan hingga menyentuh 4,50 persen di April 2020.

Harapannya, kredit naik dan deposito turun

Penurunan suku bunga tentunya diharapkan berimbas pada peningkatan kredit. Namun, apakah kebijakan penurunan suku bunga ini langsung mengerek kredit?  

Sebut saja, pada tahun 2016, jumlah penyaluran dana berupa kredit pada pihak ketiga maupun bank lain adalah 9,67 persen, sementara itu di tahun 2017 mencapai 10 persen. Di tahun 2018, penyaluran kredit naik drastis jadi 14,8 persen, padahal pada tahun tersebut, tepatnya mulai bulan Juni 2018, suku bunga acuan naik perlahan hingga mencapai puncaknya pada bulan desember dengan 6 persen.

Seiring dengan berjalannya waktu, Pemerintah akhirnya kembali menurunkan suku bunga di Juli 2019, namun penyaluran kredit bank konvensional di 2019 menurun yaitu 8,12 persen.

Baca juga: Kasus COVID-19 Meningkat tapi Mobilitas dan Keyakinan Konsumen Mulai Pulih

Lantas bagaimana di masa pandemi COVID-19? Terhitung sejak Januari hingga April 2020, penyaluran dana kredit bank konvensional yang tertera di laporan OJK baru mencapai 1,96 persen. Seperti diketahui, dalam rentang waktu Januari hingga April, Suku Bunga BI sudah dipangkas dua kali, yakni dari 5.00 persen menjadi 4,50 persen atau turun 50 basis poin. 

Akankah dengan pemotongan 50 basis poin yang terjadi di rentang April hingga Juli 2020, kredit akan meningkat?

Walau tumbuh, deposito menunjukkan tren melambat

Dengan adanya pemangkasan suku bunga BI, tentu saja bunga keuntungan dari deposito menjadi berkurang. Jadi, meski jumlah simpanan berjangka tersebut dilaporkan naik, tren pertumbuhannya justru berkurang.

Lifepal mencatat, di sepanjang tahun 2016, persentase simpanan berjangka di bank konvensional tercatat 6,14 persen sementara itu di tahun 2017 mencapai 6,21 persen.  Meski demikian, pertumbuhan simpanan berjangka di tahun 2018 justru hanya 4,9 persen, dan di tahun 2019, hanya 2,9 persen.

Perubahan tingkat suku bunga tak berdampak langsung pada pertumbuhan kredit

Pemotongan suku bunga BI memang bisa mendorong pertumbuhan kredit, hanya saja dampak dari kebijakan ini tidak akan berdampak langsung setelah kebijakan ini dicetuskan.

Seperti yang sudah kita saksikan pula, Pemerintah RI juga memangkas lagi suku bunga hingga mencapai 4,00 persen juli 2020. Bisa dikatakan bahwa 4,00 persen adalah suku bunga terendah dalam empat tahun belakangan.

Pandemi COVID-19 memang menciptakan ketidakpastian dalam sektor bisnis. Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) juga sudah mengumumkan bahwa hingga 27 Mei 2020, ada 3.066.567 warga yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketika sumber penghasilan hilang, maka besar kemungkinan bagi seseorang untuk mengurangi pengeluaran, menunda pembelian aset, dan menunda investasi. Pengucuran kredit yang dilakukan oleh bank juga harus dengan hati-hati. Sebab, jika seorang nasabah tiba-tiba kehilangan penghasilannya, maka risiko kredit macet yang dialami bank cukup tinggi. Alih-alih mendorong perekonomian, hal ini justru bisa menciptakan masalah baru.

Baca juga: Jaga Stabilitas Ekonomi, BI Turunkan Suku Bunga Acuan 4,25 Persen

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: