Pantau Flash
Jokowi Terbitkan Inpres 6/2020 Tentang Penegakan Hukum Protokol Kesehatan
WHO: Wuhan Diduga Bukan Tempat Awal Penularan COVID-19
Peneliti IPB: 80 Persen Tanaman Obat Dunia Ada di Indonesia
Ambyar! Konsumsi Rumah Tangga Anjlok, Terburuk Sejak 1999
Menhub: Ojek-Taksi Daring Lebih Unggul dari Angkutan Pengumpan

Kasus COVID-19 Meningkat tapi Mobilitas dan Keyakinan Konsumen Mulai Pulih

Kasus COVID-19 Meningkat tapi Mobilitas dan Keyakinan Konsumen Mulai Pulih Ilustrasi (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Optimisme konsumen terhadap perekonomian Indonesia di masa pandemi COVID-19 lebih dipengaruhi oleh pergerakan mobilitas masyarakat. Penguatan ini tercermin lewat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada periode Mei hingga Juni 2020.

Seiring meningkatnya mobilitas warga menyusul diberlakukannya berbagai pelonggaran pembatasan aktivitas. Peningkatan jumlah kasus COVID-19 dan penurunan mobilitas warga pada Maret, April, hingga Mei sempat memicu pelemahan IKK.

Jelas saja, IKK, atau indeks yang menjadi alat ukur perilaku konsumen rumah tangga dalam hal pengeluaran merosot secara beruntun pada tiga bulan tersebut. Namun, sejalan dengan diberlakukannya pelonggaran pembatasan aktivitas seperti yang semula awam disebut New Normal dan lantas kini diganti diksinya dengan Adaptasi Kebiasaan Baru, IKK pun membaik.

Seperti dinukil dari Lifepal mencatat setelah menyentuh titik terendahnya pada Mei, IKK bulan Juni mengalami rebound. Padahal, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan penurunan dan sudah menyentuh 78.572 kasus pada 14 Juli 2020.

Baca juga: Data IHSG Pulih Paling Lambat di ASEAN, Apa Faktornya?

Kasus COVID-19, Mobilitas dan IKK. (Foto: Dok. Lifepal)

Mobilitas warga pengaruhi naik dan turunnya IKK

Sejalan dengan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun bentuk pembatasan lainnya sejak pertengahan Maret 2020, terjadi penurunan mobilitas warga yang cukup signifikan di pusat perbelanjaan, hiburan, farmasi, taman bermain, dan tempat kerja.

Data Laporan Mobilitas Masyarakat selama pandemi COVID-19 mencatat adanya penurunan rata-rata mobilitas masyarakat dalam sepekan, terhitung dari pertengahan Maret hingga awal April 2020. Rata-rata mobilitas warga Indonesia adalah per 26 April 2020, turun hingga 35 persen.

Penurunan mobilitas itu ternyata diikuti pula dengan penurunan IKK. Sejak Februari 2020, IKK mengalami penurunan. Dari yang sebelumnya di level 113,8 di Maret 2020 menjadi 84,8 pada Bulan April 2020. IKK pun kembali mengalami penurunan ke level 77,8. Namun dalam rentang waktu, 26 April hingga 3 Mei 2020, mobilitas warga justru mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan, meski belum signifikan.

Masuk Adaptasi Kebiasaan Baru, IKK mulai pulih

Pelonggaran PSBB yang diiringi dengan pembukaan sektor-sektor bisnis di masa Adaptasi Kebiasaan Baru, terbukti mendorong peningkatan mobilitas warga. Dalam rentang waktu Mei hingga Juni 2020, mobilitas warga pun berangsur meningkat.

Tepat pada Akhir Juni 2020, aktivitas mingguan masyarakat Indonesia hanya terbendung 13,4% dari total. Bersamaan dengan itu, IKK pun mengalami kenaikan ke level 83,8 pada bulan Juni.

Baca juga: Selama Pandemi COVID-19, BPS Beberkan Pola Belanja Generasi Millenials

Meskipun terjadi kenaikan sebesar 6 basis poin dari Mei ke Juni 2020, akan tetapi nilai IKK Juni masih berada di bawah April 2020. Optimisme konsumen naik tapi kasus baru COVID-19 juga naik. Peningkatan mobilitas warga memang merangsang perbaikan IKK. Namun, kenaikan mobilitas juga memperburuk masalah yang belum selesai, yakni penyebaran COVID-19. 

Terlihat jelas bahwa pelonggaran PSBB di saat memasuki era Adaptasi Kebiasaan Baru justru berimbas pada kenaikan penambahan kasus baru COVID-19. Kurva kenaikan kasus baru COVID-19 di Indonesia justru makin terlihat naik dari hari ke hari.

Di satu sisi, kenaikan IKK mungkin menjadi sinyal yang baik karena hal ini menunjukkan adanya peningkatan sinyal konsumsi dan juga investasi. Akan tetapi, peningkatan jumlah kasus Korona juga bisa menimbulkan masalah baru di masa yang akan datang.

Jika kasus makin memuncak dan Pemerintah harus kembali membatasi aktivitas warga, tentu saja fenomena ini berpotensi menurunkan konsumsi dan menciptakan ketidakpastian kembali bagi para pelaku usaha yang akhirnya juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indeks Keyakinan Konsumen

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) merupakan indikator ekonomi yang dirancang untuk mengukur optimisme atau pesimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian suatu negara.

Naik turunnya IKK disebabkan karena kenaikan dan penurunan dari dua indeks pembentuknya yaitu, Indeks Kondisi Ekonomi (IKE), dan Indeks Ekspektasi Konsumen.

Nilai IKK di bawah 100 menandakan masuknya IKK ke zona pesimis yang berimbas ke penurunan daya beli dari masyarakat. Sementara itu, nilai IKK di atas 100 menandakan bahwa IKK masih berada di level optimis. Informasi seputar IKK dapat diakses langsung dalam Survei Konsumen Bank Indonesia (BI).

Baca juga: Hasil Survei: Anak Muda Makin Optimistis di Era New Normal

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: