Pantau Flash
Paket Bantuan Amerika Serikat untuk COVID-19 Mencapai Rp32.400 Triliun
Jadi Episentrum COVID-19, 66 Orang Meninggal Dunia di Jakarta
Kemenpora Keluarkan Protokol Guna Perangi Wabah Virus Korona
12 Ruas Jalanan Kota Medan Resmi Ditutup Imbas Pandemi Korona
183 Jemaah Masjid Kebun Jeruk Dipindahkan ke RS Wisma Atlet

Industri Sawit 'Harap-harap Cemas' Soal Prediksi Puncak Korona Bulan Juni

Industri Sawit 'Harap-harap Cemas' Soal Prediksi Puncak Korona Bulan Juni Kelapa Sawit. (Foto: ISTIMEWA)

Pantau.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengkhawatirkan terkait kemungkinan pandemi virus Korona (COVID-19) yang terjadi puncaknya pada Juni 2020. Hal ini akan menekan terus harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

"Banyak pakar dunia memperkirakan puncak pandemik corona akan terjadi pada sekitar bulan Mei-Juni. Situasi ini dikhawatirkan akan menekan harga minyak nabati termasuk minyak sawit," kata Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono.

Selain pandemi COVID-19, industri sawit juga dihadapkan dengan musim kemarau pada beberapa bulan lagi, di mana kebakaran hutan dan lahan menjadi momok menakutkan.

Baca juga: INDEF: Indonesia Harus Bisa Bantah Metode Uni Eropa soal Diskriminasi Sawit

Pembukaan lahan dengan sistem bakar oleh masyarakat harus dapat dihindari, lanjutnya, meskipun peraturan perundangan masih memungkinkan untuk pembukaan lahan di bawah 2 hektare.

Menurut Mukti, perusahaan perkebunan perlu memperkuat kembali koordinasi dengan instansi terkait dan memeriksa kesiapan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran yang dimiliki.

Ada pun pada awal 2020, harga CPO dibuka meningkat dengan rata-rata harga CPO Cif Rotterdam sebesar 830 dolar AS per ton, dibandingkan harga pada Desember 2019 adalah 787 dolar AS per ton.

Namun demikian, ekspor minyak CPO pada Januari menurun sebesar 35,6 persen menjadi 2,39 juta ton, dari Desember 2019 sebesar 3,72 juta ton.

Baca juga: Duh! Puluhan Petani Sawit Belum Terima Dana Peremajaan Sawit dari BPDPKS

Penurunan ekspor CPO antara lain dipengaruhi karena harga minyak bumi yang tidak menentu akibat ketidaksepakatan antara OPEC dengan Rusia, serta terjadinya pandemi corona atau COVID-19 di sejumlah negara.

"Terjadinya pandemi corona yang melanda hampir ke seluruh dunia menyebabkan perlambatan kegiatan ekonomi global yang berakibat pada penurunan konsumsi minyak nabati terutama minyak nabati yang diimpor," katanya.

Penurunan ekspor CPO terjadi hampir ke semua negara tujuan yaitu ke China turun 381.000 ton (turun 57 persen), Uni Eropa turun 188.000 ton (turun 30 persen), ke India turun 141.000 ton (turun 22 persen), dan ke Amerika Serikat turun 129.000 ton (turun 64 persen). Sementara itu, ekspor Bangladesh meningkat 40.000 ton atau sebesar 52 persen dari bulan sebelumnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: