Pantau Flash
Anies Kembali Perpanjang PSBB Transisi Jakarta untuk ke-4 Kalinya
Seluruh Peserta Sidang Tahunan MPR RI Wajib Melakukan Swab Test
Kadisparekraf DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia Tutup Usia
Subsidi Bunga KUR 6 Persen Diperpanjang hingga Desember 2020
Kantor Pusat BMKG Lockdown Usai 31 Karyawan Reaktif COVID-19

5 Fakta Baru Pembunuhan Ayah-Anak yang Didalangi Aulia Kesuma

Headline
5 Fakta Baru Pembunuhan Ayah-Anak yang Didalangi Aulia Kesuma Aulia Kesuma tiba di Polda Metro Jaya (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Aulia Kesuma hanya tertunduk malu setibanya di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis petang (29/8/2019). Otak pembunuhan sadis terhadap suami dan anak tirinya itu terancam hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. 

Bagaimana tidak, wanita paruh baya itu tega menghabisi nyawa Edi Candra Purnama alias Pupung Sadili (54) dan anak tirinya M Adi Pradana alias Dana (23) hanya karena terlilit utang di bank senilai hampir Rp10 miliar. Aulia pun harus menyewa pembunuh bayaran untuk melancarkan aksinya.

Belakangan, terungkap berbagai fakta baru kasus yang menggemparkan itu.

1. Suami enggan jual rumah

Pangkal utama kasus ini adalah keengganan Edi menjual rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk menutupi utang Aulia di Bank. Menurut Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi, korban Edi menolak menjual rumahnya karena tak mau terlilit utang dan juga hubungan antara anaknya dengan pelaku itu tak berjalan harmonis.

"Almarhum (Edi) tidak mau dan dililit utang, ditambah hubungan tidak harmonis antara anak Aulia, Kevin (KV) tersebut dengan ayah tiri dan kakak tirinya Dana," pungkasnya.

Selain itu, rumah tersebut adalah warisan turun temurun keluarga Edi.


2. Utang miliaran rupiah karena gagal bisnis

Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudy Sufahriadi mengatakan, utang senilai Rp10 miliar itu lantaran Aulia Kesuma meminjam uang kepada dua bank untuk berbisnis. 

Sayangnya, usahanya itu bangkrut sehingga Aulia berniat menjual rumah korban untuk melunasi utang tersebut. Namun, niat itu ditentang oleh suami dan anak tirinya itu.

"Awalnya berutang untuk berwiraswasta berdagang tapi gagal," ujar Rudy di Polda Jawa Barat, Bandung, Kamis (29/8/2019).

Di kesempatan yang sama, Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi menambahkan utang Aulia Kesuma kepada dua bank itu dengan rincian pada bank pertama utangnya Rp7 miliar dan satu bank lainnya Rp2,2 miliar.

"Sedangkan Rp 500 juta itu utang kartu kredit. Jadi jumlah utang semua ada Rp 10 miliar. Nah ini terbesar atas nama Aulia dan suaminya itu, jaminanya rumah," ungkap Nasriadi.

Baca juga: Tiba di Polda Metro, Aulia Kesuma Hanya Tertunduk dan Diam Seribu Bahasa


3. Cara pelaku menghabisi nyawa Edi dan Dana

Belakangan diketahui, bahan kimia yang digunakan pembunuh bayaran dalam kasus itu adalah obat tidur dengan dosis yang banyak. Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi menyebut tersangka Aulia memberikan obat tidur sebanyak 10 butir kepada suaminya yang dimasukkan kedalam jus.

"Tersangka AK (Aulia Kesuma) sudah beli obat tidur sebanyak satu lempeng artinya 10 butir, normalnya satu butir. Ini sepuluh butir dimasukan dalam jus yang sudah disiapkan," ucap Nasriadi.

Barulah, kedua eksekutor menghabisi nyawa Edi Chandra Purnama dengan cara membekapnya dengan menggunakan kain yang telah diberikan alkohol 80 persen. Sedangkan, untuk menghabisi nyawa Dana, sambung Nasriadi, tersangka Kevin terlebih dahulu mengajaknya bermain game hingga kemudian diberikan minuman keras.

Sehingga, Dana yang telah terpengaruh minuman keras itu pun tertidur. Selanjutnya, barulah kedua eksekutor yakni A dan S beraksi. Namun, saat itu Dana sempat melakukan perlawanan.

"Pada saat eksekusi dana terjadi perlawanan sehingga Dana agak dipukul dada dan terlihat di hidung dan mulut kemudian darah itulah yang nempel," kata Nasriadi.


4. Pelaku bukan pembunuh profesional

Dua eksekutor yang diminta untuk menghabisi nyawa Edi dan Dana bukanlah pembunuh bayaran profesional.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menyebut dari hasil pemeriksaan sementara para eksekutor baru pertama kali melakukan tindak kejahatan pembunuhan.

"Baru satu kali (melakukan aksi pembunuhan)," ucap Argo di Polda Metro Jaya, Kamis (29/8/2019).

Selain itu, sambung Argo, kedua eksekutor yakni A dan S dalam kehidupan sehari-hari diketahui bekerja sebagai buruh.


5. Salah seorang eksekutor mendadak ayan sebelum beraksi

Kasus pembunuhan ayah dan anak yang diprakarsai oleh Aulia Kesuma atau istri dari korban semakin menemukan titik terang. Dalam aksinya itu, Aulia menyewa empat pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili dan M. Adi Pradana alias Dana (23).

Namun, pada rentetan aksi pembunuhan itu terselip cerita unik dari empat eksekutor. Sebab pada saat hendak beraksi atau dalam perjalanan penyakit ayan atau epilepsi dari satu pembunuh bayaran itu kambuh.

"Salah satu eksekutor kesurupan atau seperti sakit ayan," ucap Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi di Polda Jawa Barat, Kamis (29/8/2019).

Baca juga: Kasus Aulia Kesuma: Pelaku Bukan Pembunuh Profesional, Hanya Seorang Buruh

Sehingga, para eksekutor memutuskan untuk menunda aksinya yang kala itu hendak berangkat ke rumah korban yang berada di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Ketiga eksekutor itu pun membawa rekannya tersebut ke salah satu penginapan yang berada di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, dengan tujuan mengobati penyakit ayan tersebut.

Usai membawa rekannya, ketiga eksekutor itu pun berniat menyelesaikan tugas yang telah diberikan oleh Aulia Kesuma. Namun, dua pembunuh bayaran yakni, A dan S meminta satu rekannya untuk menemani.

"Satu eksekutor ini mau ikut tapi mendapat informasi beberapa eksekutor lain tidak bisa ditinggal sehingga hanya dua eksekutor ikut ke sana," kata Nasriadi.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Kontributor - TIH

Berita Terkait: