Pantau Flash
Antonio Banderas Umumkan Positif COVID-19 di Hari Ulang Tahunnya
Pemerintah Perpanjang Stimulus Keringanan Listrik hingga Akhir Tahun
Rusia Jadi Negara Pertama di Dunia yang Setujui Vaksin COVID-19
Menteri Budi: Masa Pandemi Ancam Kebangkrutan Industri Penerbangan
Pemotongan Sapi 'Tidak Manusiawi' di Aceh Disorot Media Asing

Dear Pemprov DKI, Petugas Pemakaman COVID-19 Pertanyakan Insentif Nih

Dear Pemprov DKI, Petugas Pemakaman COVID-19 Pertanyakan Insentif Nih Petugas pemakaman memeriksa lahan makam untuk jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Pantau.com - Petugas pemakaman dan penanganan jenazah pasien COVID-19 DKI Jakarta mempertanyakan tunggakan insentif kinerja Mei 2020 yang hingga saat ini belum dilunasi oleh dinas terkait.

"Insentif kami biasanya dibayar per tanggal 25 setiap bulan Rp3,5 juta. Tapi yang Mei sampai sekarang belum ada kejelasan, termasuk yang Juni belum ada kejelasan," kata salah satu penggali kubur pasien COVID-19 berinisial JJ (45), di Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Pria yang berstatus sebagai Petugas Perjanjian Kerja Orang Per Orangan (PJLP) memperoleh insentif dari alokasi dana operasional Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta untuk 15 hari kerja.

Selama wabah COVID-19 JJ secara rutin memakamkan paling sedikit empat jenazah per hari di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur dan TPU Tegal Alur, Jakarta Barat. "Sehari bisa empat kali angkut jenazah," katanya.

Baca juga: Doni Monardo: Penyebutan Zonasi Wilayah Harus Sesuai dengan Ketentuan Pusat

Insentif yang diterima JJ di luar gaji pokok senilai Rp4,2 juta per bulan. "Kalau gaji tidak ada masalah," katanya.

JJ mengatakan nasib yang sama juga dialami 138 petugas gali kubur di TPU Pondok Ranggon dan 20 petugas lainnya di TPU Tegal Alur. Hal yang sama dikemukakan petugas ambulans Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI berinisial IF (38).

"Jujur, uang insentif sebenarnya cuma cukup buat biaya tol selama antar jenazah ke TPU. Misalnya dari Fatmawati ke Pondok Ranggon bulak balik bisa Rp100 ribu sekali jalan," katanya.

Selama ini IF hanya mengandalkan gaji pokok bulanan untuk kebutuhan operasional pelayanan. "Selama insentif belum turun kadang saya cari tambahan dari keluarga pasien untuk jasa pemasangan batu nisan dan rumput," katanya.

Tawaran jasa tersebut tidak dipatok harga dari pihak keluarga almarhum yang berkenan. "Hanya seikhlasnya saja, kalau berkenan," katanya.

Baca juga: Wali Kota Cimahi Benarkan Ada Klaster Baru COVID-19 di Pusdikpom AD

Pertanyaan yang sama juga disampaikan anak dari seorang penggali kubur bernama N Khairuli, Kamis (9/7). "Minta tolong tanggapan pemerintah, gimana nih insentif bapak saya sebagai tukang gali makam COVID-19 sampai saat ini sudah telat," katanya di salah satu kolom komentar media massa nasional.

Secara terpisah Kepala Dinas Pemakaman DKI Jakarta Siti Hasni  yang dikonfirmasi melalui pesan singkat dan sambungan telepon belum memberikan respons hingga berita ini diturunkan.

Sebelumnya dalam rapat virtual Tim Pengawas Covid-19 DPR RI di Jakarta, Kamis (16/4), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengemukakan petugas pemakaman jenazah terpapar virus COVID-19, termasuk tenaga medis sudah menerima insentif. "Tenaga yang terkait dengan urusan COVID-19 dari mulai medis sampai dengan pemakaman diberikan insentif tambahan," kata Anies.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: