Pantau Flash
Kemendes PDTT Raih Penghargaan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2020
Kementan Raih Penghargaan Pelayanan Publik Terbaik dari Kemenpan RB
Kemenparekraf Prediksi Tren Wisata Domestik dan Alam Akan Populer di 2021
Rekor Lagi! Kasus Positif COVID-19 RI Naik 5.534 per 25 November
Anita Kolopaking: Djoko Tjandra Ingin Nama Baiknya Dipulihkan

Cegah Stunting Bisa Dimulai Saat Calon Ibu Remaja

Cegah Stunting Bisa Dimulai Saat Calon Ibu Remaja Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Upaya mencegah stunting atau kondisi kurang gizi kronis yang ditandai tinggi badan tidak normal pada anak, bisa dimulai sejak perempuan atau calon ibu berusia remaja, kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI), Prof. Purnawan Junadi.

Bukan hanya sejak anak berusia 1.000 hari pertama, para perempuan yang nantinya manjadi calon ibu juga sebelumnya harus cukup asupan gizinya, termasuk zat besi, agar tidak terkena anemia pada masa remaja hingga saatnya mereka hamil dan melahirkan anak.

“Kalau mau mencegah stunting, mulai dari sebelum hamil, sekarang harusnya jadi primer,” ujar Purnawan dalam diskusi media via daring tentang kemitraan multisektor dalam upaya penurunan stunting di Indonesia, Rabu (21/10/2020).

Baca juga: Jangan Salah, Anak Gemuk Juga Bisa Terkena Stunting Loh!

Saat seorang ibu hamil, konsumsi tablet tambah darah (TTD) bagi mereka yang anemia dan pemeriksaan kadar hemoglobin atau Hb juga diperlukan untuk memastikan mereka tidak mengalami anemia selama hamil. Ibu hamil anemia bisa berisiko membuat dia melahirkan bayi stunting atau gagal tumbuh karena kurang gizi kronis.

Usai ibu melahirkan, bayi mereka perlu mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan bersamaan dengan imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal, lalu asupan MPASI atau makanan pendamping ASI yang bergizi di usia 18 bulan dan stimulasi psikososial di 36 bulan berikutnya. Di sisi lain, akses air bersih lalu sanitasi yang sehat juga turut menjadi perhatian.

“1.000 hari pertama kelahiran yakni 9 bulan dalam kandungan dan dua tahun setelah kelahiran. Fokus di tablet tambah darah, enam bulan pertama fokus di ASI eksklusif, 18 bulan MPASI berjalan maka stunting menurun, imunisasi, dan WASH (Pengendalian Infeksi/Air, Sanitasi, dan Kebersihan),” kata Purnawan.

Purnawan mencatat, upaya pencegahan stunting di tanah air saat ini masih terkendala beberapa hal, antara lain tingkat asupan tablet tambah darah 90 tablet pada ibu hamil anemia baru mencapai 37,7 persen dan baru sekitar 48,7 persen ibu hamil yang memeriksakan kadar Hb mereka.

Pada anak, pemberian ASI eksklusif enam bulan baru mencakup 37 persen, MPASI di usia 18 bulan bahkan belum mencapai 40 persen, sementara cakupan imunisasi dasar lengkap baru menyentuh angka 57,9 persen dan akses air bersih tak sampai 50 persen.

“Anemia masih tinggi yakni 49 persen. Anemia remaja 84 persen, masih tinggi,” jelas Purnawan.

Di sisi lain, dia melihat angka perkawinan anak dan hamil dalam usia muda di bawah usia 18 tahun masih tinggi di 435 kabupaten di Indonesia. Kehamilan pada usia di bawah 20 tahun atau saat psikologis wanita cenderung belum matang, lalu dia bisa saja belum memiliki pengetahuan cukup mengenai kehamilan dan sebenarnya masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun.

Dalam kesempatan itu, Direktur Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Riskiyana Sukandhi Putra, mengatakan, pencegahan stunting menjadi prioritas pemerintah dan masyarakat di semua tingkatan baik di pusat maupun daerah.

Baca juga: Apakah Stunting pada Bayi Merupakan Penyakit Turunan?

Upaya ini mencakup edukasi peningkatan kesadaran publik dan perubahan perilaku masyarakat terkait stunting, memperkuat konvergensi melalui koordinasi dan konsolidasi program dan kegiatan dari pusat sampai tingkat desa, meningkatkan akses terhadap makanan bergizi, mendorong ketahanan pangan, meningkatkan pemantauan dan evaluasi sebagai dasar memastikan pemberian makanan dan layanan bermutu.

“Kalau bicara masalah stunting bukan hanya bicara melawan stunting tetapi juga bicara bagaimana melawan masa depan yang buruk. Kita akan kehilangan generasi emas manakala kita salah mengambil intervensi dan bonus demografi tidak dapat kita raih,” kata dia.

Riskiyana mengatakan, para pemangku kepentingan bersama masyarakat perlu bekerja sama walaupun saat ini dunia menghadapi situasi pandemi COVID-19.

“Kita perlu masyarakat berperan dalam berperilaku karena upaya promotif dan preventif dilakukan sejak dini bahkan sejak anak itu usia remaja supaya tidak jatuh dalam kondisi kurang kalori, protein yang bersifat kronis sampai saatnya dia hamil dan melahirkan tidak jatuh dalam kondisi itu,” demikian Riskiyana.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty

Berita Terkait: