Forgot Password Register

Berpotensi Ekspor, Kemenperin Genjot Kinerja Industri Perhiasan

Berpotensi Ekspor, Kemenperin Genjot Kinerja Industri Perhiasan Pekerja menyelesaikan kerajinan perhiasan lapis emas di Indramayu. (Foto: Antara/Dedhez Anggara)

Pantau.com - Kementerian Perindustrian tengah memacu kinerja industri padat karya berorientasi ekspor, salah satunya sektor industri perhiasan yang sampai saat ini terus menjadi andalan.

"Kami bersyukur kegiatan industri perhiasan di Indonesia sudah berkembang, di mana tercatat pada 2017, nilai ekspor perhiasan mencapai 2,6 miliar dolar AS," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih melalui keterangannya di Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Didukung sentuhan teknologi serta inovasi, lanjutnya, maka kemajuan sektor industri perhiasan diharapkan akan semakin meningkat. Gati menyampaikan hal itu dalam sambutannya pada acara pembukaan Jakarta International Jewellery Fair 2018 di Jakarta Convention Center.

Baca juga: Perusahaan Ritel 'Tiarap', Jokowi: Imbas Tak Mengikuti Perkembangan Zaman

Industri perhiasan di Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, ditandai dengan meningkatnya nilai ekspor logam mulia, batu permata dan perhiasan.

Untuk memperluas akses pasar, Kemenperin terus berupaya menggenjot laju pertumbuhan industri perhiasan.

Usaha tersebut antara lain melalui fasilitasi dalam berbagai pameran berskala internasional, salah satunya pada ajang Jakarta International Jewellery Fair 2018 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perhiasan Emas dan Permata Indonesai (APEPI) pada 19-22 April 2018 di Jakarta Convention Center.

Ditjen IKM memfasilitasi 30 IKM perhiasan untuk ikut serta dalam Jakarta International Jewellery Fair 2018 yang terdiri dari IKM perhiasan mutiara, perak, giok aceh, batu-batuan, aksesories pengantin, serta aksesoris khas daerah.

Baca juga: Nah! Pemerintah Diminta Evaluasi Efektivitas Mekanisme Impor Pangan

IKM perhiasan tersebut berasal dari Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Bali, Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta dan Sumatera Selatan.

Gati mengatakan Kemenperin berupaya menurunkan tarif bea masuk impor untuk bahan baku intan yang awalnya 5 persen menjadi 0 persen dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor.

"Hal ini kami upayakan untuk terus meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri perhiasan dalam menghadapi persaingan global," jelasnya.

Beberapa bentuk pembinaan yang juga telah dilakukan Kementerian Perindustrian untuk mendorong pertumbuhan industri perhiasan nasional antara lain memberikan fasilitasi bimbingan teknis produksi dan melakukan pendampingan tenaga ahli.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More