Pantau Flash
Catat! Ada Denda Rp300 Ribu Jika Anda ‘Ngasal’ Kendarai GrabWheels
LAN: 37 Persen ASN Punya Latar Belakang Pendidikan Tak Sesuai Kompetensi
Saddil Ramdani Pamit dari Pahang FA
Chandra Hamzah Akan Pimpin BUMN Sektor Perbankan
Defisit APBN Melebar Mencapai 1,80 Persen di Oktober 2019

Bukan Hanya Bahaya Untuk Tubuh, Polusi Udara Juga Bisa Sebabkan Depresi

Bukan Hanya Bahaya Untuk Tubuh, Polusi Udara Juga Bisa Sebabkan Depresi Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan yang banyak diberitakan juga diperbincangkan. Pencemaran kualitas udara yang terjadi akibat asap karhutla mengundang banyak penyakit terutama infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. 

Bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, asap karhutla yang meningkatkan polusi udara itu ternyata juga berisiko untuk kesehatan mental.

Melansir dari The Telegraph, para peneliti dari University of Chicago, Amerika Serikat, membuktikan bahwa hidup di daerah dengan tingkat polusi udara yang tinggi dapat meningkatkan risiko depresi berat.

Baca juga: Hati-Hati Polusi Juga Bisa Bikin Sakit Mata, Pakai Kacamata Saja Tak Cukup!

Para peneliti itu menemukan bahwa masyarakat Amerika yang tinggal di daerah dengan udara tercemar, 27 persen berisiko terkena gangguan bipolar dan 6 persen terkena depresi berat.

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa orang yang terpapar emisi atau polusi berat sebelum berusia 10 tahun memiliki risiko 50 persen lebih mungkin menderita depresi berat, skizofrenia, dan gangguan kepribadian ketika dewasa.

"Studi kami di Amerika Serikat dan Denmark menunjukkan bahwa tinggal di daerah yang tercemar, terutama di awal kehidupan, terprediksi menderita gangguan mental," Penulis penelitian sekaligus ahli biologi, Dr Atik Khan, 

Baca juga: Lahir dengan Koneksi Internet dan Medsos, Gen Z Waspadai Depresi

Selain penelitian tersebut ada pula penelitian lainnya yang menguji dampak polusi pada laboratorium yang menunjukkan bahwa polusi dapat mengenai otak melalui hidung dan paru-paru.

Hal inilah yang membuktikan hubungan antara polusi udara dan gangguan kejiwaan yang menyebabkan meningkatnya risiko gangguan kognitif dan depresi bagi orang yang menghirupnya.

“Kami berhipotesis bahwa polutan dapat mempengaruhi otak kita melalui jalur neuroinflamasi yang juga terbukti menyebabkan tanda-tanda mirip depresi dalam penelitian pada hewan,” kata Dr. Andrey Rzhetsky, yang memimpin penelitian tersebut.

Tim Pantau
Sumber Berita
telegraph.co.uk
Editor
Lilis Varwati
Penulis
Lilis Varwati
Category
Ragam

Berita Terkait: